Potensi Usaha Mengasilkan Uang di Era Inflasi
- 10 Sep 2026 10:43 WIB
- Sanggau
RRI.CO.ID, Sanggau - Inflasi yang tinggi sering kali mengikis daya beli masyarakat karena kenaikan harga barang dan jasa tidak diimbangi oleh peningkatan pendapatan konvensional. Di tengah kondisi ekonomi yang serba tidak pasti ini, bergantung pada satu sumber penghasilan saja tentu sangat berrisiko. Memiliki instrumen atau bisnis yang mampu beradaptasi, bahkan memanfaat pembalikan arus ekonomi saat inflasi, menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas finansial.
Salah satu sumber pendapatan paling potensial saat inflasi adalah investasi pada aset riil seperti properti dan tanah. Properti memiliki sifat bawaan sebagai pelindung nilai (inflation hedge) karena harga sewa dan nilai jualnya cenderung naik seiring atau bahkan melampaui laju inflasi. Pemilik aset dapat memanfaatkan situasi ini dengan menyewakan properti residensial maupun komersial, sehingga menghasilkan arus kas rutin (passive income) yang nilainya secara berkala dapat disesuaikan dengan tingkat inflasi.
Selain properti, bisnis kebutuhan pokok (fast-moving consumer goods atau FMCG) dan pangan merupakan sumber penghasilan yang sangat tangguh di tengah inflasi. Sifat produk ini adalah inelastic demand, artinya masyarakat akan tetap membeli makanan, minuman, dan bahan kebersihan sehari-hari terlepas dari seberapa tinggi harganya. Membuka usaha distribusi, ritel bahan pangan, atau produk olahan makanan pokok menjamin aliran pendapatan yang stabil karena pasarnya selalu ada dan fleksibel dalam menyesuaikan harga jual.
Sektor jasa berbasis keahlian khusus dan jasa perbaikan (repair and maintenance) juga mengalami lonjakan permintaan saat inflasi tinggi. Di saat harga barang-barang baru seperti elektronik, kendaraan, atau mesin menjadi sangat mahal, konsumen dan pelaku bisnis cenderung memilih untuk memperbaiki barang yang sudah ada daripada membeli baru. Menawarkan jasa servis, konsultasi teknik, atau perawatan aset menjadi peluang bisnis bermodal minim namun berpotensi meraup margin keuntungan yang tinggi.
Peluang besar lainnya datang dari investasi pada komoditas dan emas. Emas telah lama terbukti sebagai aset safe haven yang mampu mempertahankan nilai riilnya ketika mata uang melorot. Sementara itu, terlibat dalam rantai pasok atau perdagangan komoditas seperti energi dan hasil bumi juga sangat menguntungkan, karena harga komoditas merupakan salah satu pemicu utama kenaikan inflasi itu sendiri, sehingga marjin keuntungan di sektor ini ikut terdorong naik.
Di era digital, menghasilkan pendapatan dalam mata uang asing (foreign currency) melalui pekerjaan lepas (freelancing) atau bisnis ekspor menjadi strategi yang sangat menguntungkan. Saat inflasi domestik melemahkan nilai tukar mata uang lokal, pendapatan berbasis Dolar AS atau Euro yang diperoleh dari klien luar negeri akan memberikan daya beli yang jauh lebih tinggi ketika dikonversi ke dalam rupiah. Profesi seperti pengembang perangkat lunak, desainer grafis, atau penterjemah independen sangat berpotensi di jalur ini.
Terakhir, investasi pada instrumen keuangan yang responsif terhadap suku bunga, seperti obligasi pemerintah berimbal hasil dinamis (floating rate) atau saham sektor perbankan, dapat menjadi pelengkap portofolio pendapatan. Bank sentral biasanya menaikkan suku bunga acuan untuk menekan inflasi, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan bunga bagi lembaga keuangan. Memanfaatkan momentum ini melalui instrumen investasi yang tepat memungkinkan seseorang memperoleh dividen atau imbal hasil yang tetap kompetitif di atas rate inflasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....