Ini yang Terjadi pada Tubuh ketika Tiba-tiba Berhenti Merokok

  • 10 Sep 2026 10:47 WIB
  •  Sanggau

RRI.CO.ID, Sanggau - Berhenti merokok secara mendadak atau cold turkey kerap dianggap sebagai langkah paling efektif untuk melepaskan diri dari kecanduan nikotin. Bagi sebagian orang, keputusan tegas ini terasa lebih praktis dibanding mengurangi jumlah rokok secara bertahap. Namun, perubahan yang sangat drastis pada tubuh ini tidak selalu berjalan mulus tanpa adanya reaksi atau respons fisik dan mental.

Risiko paling awal dan paling umum dialami adalah munculnya gejala putus nikotin atau nicotine withdrawal. Ketika asupan nikotin yang biasanya rutin tiba-tiba terhenti, otak yang sudah terbiasa dengan rangsangan zat tersebut akan bereaksi. Dampaknya, seseorang dapat merasakan sakit kepala hebat, pusing, gelisah, hingga insomnia atau kesulitan tidur yang cukup mengganggu pada beberapa minggu pertama.

Selain gejala fisik, penghentian rokok secara mendadak juga berdampak cukup signifikan terhadap kondisi psikologis. Perubahan kadar dopamin di dalam otak dapat memicu ketidakstabilan emosi. Mantan perokok sering kali menjadi jauh lebih sensitif, mudah marah, cemas berlebihan, bahkan mengalami penurunan emosional yang mirip dengan gejala depresi ringan akibat kehilangan mekanisme coping harian mereka.

Sistem pencernaan juga tidak luput dari dampak perubahan mendadak ini. Nikotin selama ini berperan dalam merangsang pergerakan usus dan mempercepat pencernaan. Saat zat ini hilang tiba-tiba, kerja usus bisa melambat yang mengakibatkan timbulnya masalah seperti konstipasi atau sembelit, perut kembung, serta ketidaknyamanan pada area perut selama masa penyesuaian.

Risiko lain yang sangat sering dijumpai adalah peningkatan nafsu makan yang berpotensi memicu kenaikan berat badan. Tanpa adanya efek penekan nafsu makan dari nikotin, tubuh cenderung mencari pengganti rangsangan oral dan dopamin melalui makanan. Jika tidak diimbangi dengan pilihan makanan sehat dan aktivitas fisik, konsumsi kalori yang berlebih dapat berujung pada penambahan berat badan yang lumayan signifikan.

Meskipun paru-paru mulai membersihkan diri dari tumpukan racun, proses pembersihan alami ini sering kali memicu respons batuk berdahak yang intens. Bulu-bulu halus (silia) di dalam saluran pernapasan yang sebelumnya melumpuh akibat asap rokok mulai aktif kembali dan membersihkan lendir. Kondisi ini acap kali disalahartikan sebagai efek buruk, padahal sebenarnya merupakan proses pemulihan alami paru-paru.

Meskipun risiko ketidaknyamanan fisik dan emosional akibat berhenti merokok secara mendadak cukup nyata, bahaya tersebut sifatnya sementara dan jauh lebih kecil dibanding risiko jangka panjang dari terus merokok. Gejala-gejala tersebut umumnya mencapai puncak pada minggu pertama dan perlahan menghilang. Dengan persiapan mental yang matang serta dukungan lingkungan, risiko-risiko ini dapat terlampaui demi kesehatan tubuh yang jauh lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....