Shalawat Tarhim, Jejak Subuh dalam Puisi Budaya
- 31 Jan 2026 19:57 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Kumandang Shalawat Tarhim kerap terdengar lirih menjelang subuh. Lantunan itu menjadi penanda waktu sekaligus panggilan batin bagi umat Islam.
Bagi Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, suara tersebut menyimpan memori panjang. Ia menyebut Shalawat Tarhim telah hadir dalam ruang spiritual masyarakat sejak puluhan tahun lalu.
“Sejak kecil, sekitar tahun 1960-an, saya mendengar Shalawat Tarhim melalui siaran radio,” katanya, Sabtu 31 Januari 2026.
Menurutnya, suara itu sulit terhapus dari ingatan. Ia menjelaskan, lantunan salawat pada masa itu tidak didukung teknologi modern.“Tidak ada peralatan canggih, tetapi suaranya tetap syahdu dan menyentuh,” ujarnya.
Shalawat Tarhim dahulu identik dengan penanda menjelang waktu subuh. Lantunannya mengalir lembut sebelum azan dikumandangkan. Seiring waktu, ia melihat perubahan dalam tradisi pelantunan.
“Di Sampang, Shalawat Tarhim kini juga terdengar sebelum salat lain,” tuturnya.
Fenomena tersebut kemudian mendorongnya menulis puisi berjudul Shalawat Tarhim. Puisi itu lahir dari perenungan tentang beratnya bangkit menuju salat subuh. Ia menggambarkan malam sebagai ruang ujian manusia.
“Banyak godaan, kebisingan, dan aktivitas duniawi yang melemahkan kesadaran,” katanya.
Menurutnya, shalawat menjadi panggilan lembut yang menembus kepenatan malam. Ia menyebut lantunan itu seperti belaian yang membangunkan jiwa. Puisi tersebut ditulis di Pesisir Jawa Timur pada 31 Januari 2026. Karya itu menjadi refleksi spiritual sekaligus kesaksian budaya.
Berikut puisi Selawat Tarhim karya Bustomi Irwan Kurniadi:
SHALAWAT TARHIM
Meski tertatih aku harus bangkit
pada pelukan selimut beku udara malam yang penat
pada langit kusam yang terkoyak
lantaran dipaksa menelan sepi berduri
menelan harapan yang tersayat berulang-ulang
sambil menelan raungan knalpot
pada arena balap liar
yang menggertak nalar yang kian jalang
menyisakan jejak-jejak pecundang
yang mungkin aku terlibat di dalamnya
lantaran akulah yang menggali jurang menganga itu
tepat di depan ranjangku
Sejatinya aku masih heran
mengapa panggung gelagat malam
acapkali berganti peran
hingga tak mampu kupanjat dengan logika
Doaku kehilangan kata-kata
bersaing dengan khotbah mimbar-mimbar syetan
sampai bisik hujan pada ladang tak mampu lagi kurekam
buat membasuh dosa-dosa yang lama berkarat mengeram
Bukit-bukit cadas yang garang itu
tiba-tiba menjelma jajaran beribu menara masjid
lantaran kumandang shalawat tarhim
membelai halimun malam yang bergumam sepi
padahal aku masih betah
berenang dalam bening rembulan
sementara pusaran limbah di dadaku
telah lama menjadi jelaga
Sukma yang memar
masih memikul beban yang semakin sarat
Memang sepi dan diam
terkadang lebih tajam dari seribu teriakan
tapi kukunyah takbir berulang-ulang
lewat adzan subuh yang mulai berkumandang
Allahu Akbar….
Aku harus menang…!!!
Pesisir Jawa Timur, 31 Januari 2026
Bustomi Irwan Kurniadi