Dari Hobi Warisan, Wasid Menjadikan Perkutut Bernilai Dunia

  • 06 Feb 2026 13:18 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Dusun Pliyang, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang, deretan kandang perkutut berdiri rapi. Dari sanalah suara-suara merdu berkelas nasional hingga internasional lahir. Pemiliknya, Wasid, menapaki perjalanan panjang dari hobi turun-temurun hingga menjadikan perkutut sebagai dunia yang menghidupinya.

“Awalnya ini memang murni hobi, saya meneruskan bakat dari orang tua,” kata Wasid, Jum'at 6 Februari 2026.

Ia mengungkapkan kecintaannya pada perkutut tidak bisa dilepaskan dari sosok ayahnya, almarhum Dr. M. Sunaryo, yang sejak dulu dikenal sangat menyukai burung perkutut. 

“Sejak saya kecil, bapak saya sudah senang perkutut. Jadi secara tidak langsung saya ikut terbawa sampai sekarang,” ujarnya.

Perjalanan itu dimulai sejak masa kanak-kanak. Wasid tumbuh di lingkungan kandang, lomba, dan perawatan burung. 

“Kalau saya sendiri mulai aktif ikut lomba itu sekitar tahun 2000-an, ikut orang tua dulu,” tuturnya. 

Dari perkutut lokal hingga ternakan Bangkok, semua ia pelajari perlahan, membentuk insting kuat dalam menilai kualitas bunyi dan terasan.

Keteguhan itu berbuah prestasi. Wasid mengaku telah berkali-kali meraih juara tingkat nasional. “Alhamdulillah, juara nasional sudah sering. Karena di sini juga banyak burung dari tim-tim besar yang dititipkan untuk dirawat dan dilombakan,” ucapnya. 

Sejumlah tim besar seperti Amuse, Punto, dan Mutiara mempercayakan burung-burung terbaiknya untuk berlaga di kelas LPI maupun regional. Prestasi tertinggi pun pernah diraih. 

“Pernah juara satu tingkat nasional, regional juga pernah juara satu,” katanya. Saat ini, di kandangnya terdapat delapan pasang burung milik tim Punto, tiga pasang dari tim Mutiara, empat pasang dari tim Amuse, serta burung ring miliknya sendiri. 

“Total di sini ada sekitar 50 kandang. Ring saya sendiri ada WS dan Nusantara, serta ada punto, mutiara dan amose,” jelas Wasid.

Tak hanya prestasi, nilai ekonomi perkutut di tempat ini juga sangat beragam. “Anakannya dijual, harganya tergantung dari bunyinya,” ujarnya. 

Wasid menyebut harga bisa dimulai dari Rp100 ribu hingga puluhan juta rupiah. “Bahkan ada yang sampai ratusan juta, tergantung kelas dan kualitasnya,” tambahnya. 

Mulai dari burung terasan, indukan, hingga kelas lomba, semua tersedia, termasuk layanan jodohan. Jaringan pembelinya pun lintas daerah dan negara. 

“Dari Madura banyak, luar kota seperti Jakarta juga banyak. Dari Malaysia dan Thailand juga ada,” katanya. 

Bahkan, beberapa burung ring Mutiara pernah diminati langsung oleh kolektor Thailand. “Yang dari Bangkok juga pernah ambil burung dari sini,” imbuhnya.

Meski kini hobi itu menghasilkan, Wasid menegaskan bahwa perkutut tetap berangkat dari kecintaan.

“Ini hobi yang Alhamdulillah bisa menghasilkan. Tapi tetap hobi dulu, baru rezeki mengikuti,” tuturnya. 

Ke depan, Wasid menyimpan harapan besar bagi Madura. “Mudah-mudahan Madura bisa jadi sentral perkutut Indonesia, sesuai arahan Ketua Umum P3SI Pusat,” ucapnya optimistis. Dengan ring-ring unggulan seperti Mutiara, Amuse, WS, dan Nusantara, ia yakin Madura punya modal besar. 

“Kalau pembeli siap, di sini bisa dilayani dari kelas bawah sampai kelas lomba,” pungkasnya.

Di Dusun Pliyang, kicau perkutut bukan sekadar bunyi. Ia adalah warisan, prestasi, dan masa depan yang terus dirawat dengan sepenuh hati.

Rekomendasi Berita