Bahaya Kehilangan Jati Diri di Era Kecerdasan Buatan
- 12 Feb 2026 08:34 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang – Muh. Fadlurrohman, S.H.I., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Sokobanah, menyampaikan materi mendalam mengenai "Autentisitas Insani di Era Kecerdasan Buatan", Kamis, 12 Februari 2026. Dalam paparannya, ia menyoroti perubahan dunia yang kini terjadi dalam hitungan hari akibat kehadiran Artificial Intelligence (AI). Namun, ia menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah memahami apa itu teknologi, melainkan menjaga posisi dan keaslian manusia di tengah kepungan kecerdasan mesin tersebut.
“Kemuliaan manusia terletak pada akal, hati, ruh, serta moralitas yang tidak dimiliki oleh mesin. Meskipun AI mampu mengolah data dengan kecepatan luar biasa, teknologi tersebut tidak memiliki kemampuan untuk bersujud, menangis dalam doa, ataupun merasa bersalah,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kemampuan untuk bertaubat dan mencintai dengan tulus adalah ciri khas autentik yang membedakan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling mulia dibandingkan teknologi manapun. Fenomena "generasi kecemasan" juga menjadi sorotan utama dalam ceramah tersebut, di mana banyak anak muda kehilangan jati diri karena ketergantungan pada teknologi.
Dirinya memprihatinkan kondisi anak-anak saat ini yang lebih mengenal konten viral dibandingkan mengenal Tuhan atau doa-doa dasar. Menurutnya, jika akal manusia hanya digunakan untuk mengikuti arus teknologi tanpa penyaringan, maka posisi manusia bisa merosot lebih rendah daripada hewan karena kehilangan fungsi al-aql sebagai pembeda hak dan batil.
Sebagai penutup, ia mengajak masyarakat untuk menguatkan spiritualitas dan menjaga integritas dalam menggunakan teknologi. AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia. Ia berpesan agar masyarakat tidak lebih sering menyentuh layar ponsel daripada sajadah, serta tetap menghidupkan empati melalui interaksi sosial yang nyata. Keberhasilan manusia di masa depan bukan diukur dari kecanggihan teknologinya, melainkan dari ketakwaan dan ketulusan hati sebagai khalifah di muka bumi.