Ketahui Esensi Berpuasa

  • 11 Feb 2026 12:59 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Menjelang masuknya bulan suci Ramadan yang tinggal menghitung hari, Kiai M. Badruddin mengingatkan umat muslim untuk mempersiapkan diri tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan spiritual. 

Melalui program Mutiara Pagi RRI Sampang, Rabu, 11 Februari 2026, Kiai Badruddin menekankan bahwa puasa bukan sekadar rutinitas tahunan menahan lapar, haus, dan kebutuhan biologis dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Tetapi, esensi puasa terletak pada kemampuan seseorang dalam menjaga aspek lahir dan batin secara beriringan agar ibadah tersebut tidak sia-sia.

"Bahwa terdapat perbedaan mendasar antara keabsahan puasa secara fikih dengan kesempurnaan puasa di mata Allah SWT. Secara hukum, puasa dianggap sah jika syarat dan rukunnya terpenuhi sehingga seseorang tidak lagi memiliki utang kewajiban," ucapnya.

Namun, puasa yang sempurna membutuhkan perjuangan lebih, yakni menahan seluruh anggota tubuh dari hal-hal yang tidak disukai Allah.

Ia mewanti-wanti agar lisan, pendengaran, hingga penglihatan dijaga dengan ketat, terutama di era digital saat ini di mana godaan untuk melihat atau membicarakan hal negatif sangat mudah diakses melalui ponsel.

Lebih lanjut, dia menyoroti lima hal utama yang dapat menggugurkan pahala puasa meskipun perut sedang kosong, yaitu berbohong, menggunjing (ghibah), mengadu domba, bersumpah palsu, dan melihat sesuatu dengan syahwat.

Dirinya menyadari bahwa dalam interaksi sosial, seperti di lingkungan kantor, menghindari percakapan negatif terkadang sulit dilakukan. Untuk itu, beliau memberikan solusi cerdas: jika tidak bisa menghindar secara fisik, maka minimal hati harus mengingkari perbuatan tersebut dan tidak ikut merespons agar tidak menjadi "sekutu" dalam kemaksiatan lisan tersebut.

Tujuan utama dari ibadah puasa, menurutnya, adalah sebagai benteng untuk melemahkan aura negatif atau syahwat dalam diri manusia. Dengan berpuasa, seseorang sedang melatih akalnya untuk mengendalikan hawa nafsu. Beliau membagi level manusia menjadi tiga berdasarkan kemampuan ini: mereka yang berhasil mengalahkan nafsunya bisa naik derajat melebihi malaikat, mereka yang kadang menang dan kalah berada di level menengah, sedangkan mereka yang selalu menuruti nafsunya tanpa filter akal, berada di level yang lebih rendah dari binatang.

Sebagai penutup, Kiai Badruddin mengajak seluruh masyarakat untuk menyambut Ramadan dengan penuh kesadaran dan niat yang tulus untuk meningkatkan kualitas diri. Dirinya berharap momentum puasa tahun ini menjadi ajang latihan bagi umat untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh secara psikis dan fisik.

"Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah SWT, karena kekuatan untuk menjalankan ibadah sebenarnya bukanlah milik kita sendiri, melainkan pemberian-Nya," katanya, mengakhiri.

Rekomendasi Berita