Salat Berjemaah sebagai Miniatur Kepemimpinan Ideal dalam Masyarakat
- 08 Jan 2026 06:34 WIB
- Sampang
KBRN, Sampang: Salat berjemaah bukan hanya sebagai ritual ibadah, melainkan sebagai miniatur kehidupan bermasyarakat. Faizah, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kedungdung menekankan pentingnya unsur kepemimpinan yang tercermin melalui hubungan antara imam dan makmum.
Mengutip perkataan Sayyidina Umar bin Khattab, ia menjelaskan bahwa tidak ada Islam tanpa jemaah, tidak ada jemaah tanpa kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan.
“Posisi imam tidak boleh diisi oleh sembarang orang. seorang imam harus memiliki ilmu yang luas, bacaan yang fasih, dan yang terpenting adalah kepekaan terhadap kondisi makmumnya. Hal ini selaras dengan teladan Rasulullah SAW yang melarang imam membaca surat terlalu panjang jika memberatkan jemaah. Pesan ini menjadi refleksi kuat bahwa seorang pemimpin di tengah masyarakat harus memiliki kompetensi dan sifat mengayomi,” ucapnya, Kamis (8/1/2026).
Selain ketaatan makmum, aspek yang tidak kalah penting adalah fungsi kontrol sosial. Jika seorang imam melakukan kesalahan dalam gerakan atau bacaan, makmum berkewajiban untuk mengingatkan dengan cara yang santun, yakni membaca tasbih bagi laki-laki atau menepuk tangan bagi perempuan secara lembut. Prinsip ini mengajarkan bahwa dalam sebuah sistem, rakyat memiliki peran untuk menegur pemimpin yang lalai demi menjaga tujuan utama bersama.
Di akhir, dirinya menegaskan bahwa salat berjemaah mendidik umat untuk hidup secara sistematis dan terorganisir di bawah satu komando yang sah. Dengan menghayati nilai-nilai kepemimpinan dalam salat, diharapkan masyarakat dapat membangun tatanan sosial yang lebih disiplin dan harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa dampak positif salat tidak hanya berhenti di atas sajadah, tetapi terbawa dalam kehidupan bernegara.