Nek Ainun, Juru Masak yang Membantu Pejuang Kemerdekaan
- 18 Agt 2025 17:00 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Mentari bersinar dengan sangat cerahnya, secerah senyum yang terpancar di wajah nenek Ainun Mardhiah. Ia merupakan salah seorang sosok wanita pemberani dan tangguh, yang ikut membantu dalam perjuangan melawan penjajah.
Nenek Ainun yang lebih akrab disapa Nek Nyak, kelahiran Banda Aceh 1 Juli 1925. Memasuki HUT Kemerdekaan RI ke 80 tahun, usianya genap 100 tahun. Nek Nyak masih memiliki semangat dan energi yang luar biasa, tubuhnya masih terlihat kuat meski usia telah masuk seabad.
Ia mengenang kembali kisah perjuangannya sebagai juru masak, saat itu usianya masih sangat belia. Nek Nyak mengisahkan, ia dulu tinggal di Desa Lamnga, Kabupaten Aceh Besar, kehidupan masyarakat di masa penjajahan kala itu dihantui rasa takut dan serba keterbatasan. Ia merupakan satu dari sekian banyak pejuang yang merasakan pahitnya masa-masa penjajahan Jepang, dan merebut kemerdekaan.
“Dulu siang malam ketakutan, saat terdengar suara pesawat, penjajah menjatuhkan bom, masyarakat harus bersembunyi di goa-goa yang dibuat untuk tempat persembunyian. Masa-masa sulit dulu, beras susah, sebagai pengganti beras, kami makan ubi, pisang atau jagung,” kata Nek Nyak, Senin (17/8/2025).
Kisah para juru masak yang membantu pejuang melawan penjajah seringkali terlupakan, tetapi mereka memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka tidak mengangkat senjata, tetapi mereka menyediakan logistik yang krusial bagi para pejuang, memastikan ketersediaan makanan dan memenuhi kebutuhan dasar para pejuang.
"Perjuangan kami saat itu sangat berat, tapi kami tidak pernah menyerah," jelasnya. Ia mencoba mengingat kembali pengalamannya saat ditugaskan menjadi juru masak bagi pejuang Indonesia. Tak hanya itu, ia juga bertugas untuk mengantarkan makanan bagi para pejuang yang melawan Belanda dan Jepang, puluhan tahun silam.
Nek Nyak merupakan generasi pejuang, orang tuanya bergelar Panglima Hasan yang juga merupakan pejuang membela kemerdekaan. Setelah menikah, Nek Nyak bersama suami hijrah ke Pulau Sabang pada tahun 1965. Tahun 1981 ia kehilangan sang suami tercinta pada sebuah kecelakaan.
Kala itu Nek Nyak tidak menyangka ia akan memperoleh Piagam Tanda Kehormatan dari Pemerintah Republik Indonesia sebagai veteran. Baru pada tahun 2019, Menteri Pertahanan Republik Indonesia menganugerahkannya penghargaan Tanda Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI.
Kini, di usia 100 tahun, Nenek Ainun Mardhiah masih memiliki semangat dan energi yang luar biasa. Ia berharap, kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berjuang dan berkontribusi bagi bangsa dan negara.
"Jangan pernah melupakan sejarah perjuangan bangsa kita, generasi muda dapat terus melestarikan dan mengembangkan kemerdekaan ini untuk masa depan yang lebih baik,” ungkap Nek Nyak.