Tamsil Linrung Buka Suara soal Dua Kasus di ICM, Pendampingan Korban Jadi Prioritas

  • 28 Sep 2026 07:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), Tamsil Linrung menyampaikan, permintaan maaf terkait dua peristiwa yang terjadi di lingkungan sekolah.
  • Kedua peristiwa ini adalah musibah bagi kami semua. Yang paling utama, bagi anak-anak serta keluarga yang mengalaminya
  • Saya juga memahami adanya keberatan dari pihak keluarga korban terkait respons sekolah. Dan itulah yang sedang kami telusuri lebih dalam

RRI.CO.ID, Jakarta - Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), Tamsil Linrung menyampaikan, permintaan maaf terkait dua peristiwa yang terjadi di lingkungan sekolah. Yakni, dugaan pelecehan yang kini ditangani aparat penegak hukum dan insiden perundungan dalam kegiatan Pramuka pada akhir Agustus lalu.

"Kedua peristiwa ini adalah musibah bagi kami semua. Yang paling utama, bagi anak-anak serta keluarga yang mengalaminya," katanya, di Jakarta, Senin, 28 September 2026.

Tamsil mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan orang tua korban perundungan untuk menyampaikan permohonan maaf dan dukungan moral. Sementara, terhadap korban dugaan pelecehan dan keluarganya, ICM memastikan pendampingan serta pemulihan diberikan dan proses hukum dikawal hingga tuntas.

Terkait perundungan, Tamsil menjelaskan, manajemen sekolah melakukan pemeriksaan internal, memberikan sanksi kepada siswa dan pembina terkait, memfasilitasi pertemuan antarorang tua. Serta, melaporkan kejadian tersebut kepada Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

"Saya juga memahami adanya keberatan dari pihak keluarga korban terkait respons sekolah. Dan itulah yang sedang kami telusuri lebih dalam," ucapnya.

Untuk dugaan pelecehan, Tamsil menegaskan, ICM mendukung penuh proses yang berjalan di aparat penegak hukum. "Tidak ada intervensi dari saya, dari yayasan, atau dari siapa pun, tidak ada perlakuan istimewa bagi siswa mana pun," ujarnya.

Tamsil juga menepis, anggapan adanya perbedaan perlakuan berdasarkan latar belakang siswa maupun keluarganya. "Identitasnya cuma satu, sebagai pelajar yang ingin tumbuh dan berkembang bersama ICM, terlepas dari siapa pun orang tuanya," katanya.

Ia meminta, masyarakat tidak ikut menyebarkan informasi mengenai identitas maupun latar belakang keluarga pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Menurutnya, anak-anak yang terlibat merupakan pihak yang identitasnya dilindungi hukum.

Sebagai langkah pembenahan, ICM memprioritaskan, pemulihan korban melalui pendampingan psikologis dan evaluasi menyeluruh terhadap sistem sekolah. Evaluasi mencakup kesiapan pembina, SOP kegiatan luar kelas dan asrama, mekanisme pengaduan, serta fasilitas pengamanan.

ICM juga memperkuat, mitigasi dengan menerapkan larangan bimbingan perseorangan di ruang tertutup. "Ini SOP yang sudah berjalan sejak awal, saya pastikan implementasinya," ucapnya.

Selain membuka layanan pengaduan dan konseling, ICM akan mengadakan pertemuan dengan seluruh orang tua siswa. Sekaligus, membentuk forum pengawasan bersama yang melibatkan perwakilan orang tua serta pemerintah.

"Sekolah juga berencana menyampaikan laporan perkembangan pembenahan secara berkala dan membuka ruang dialog langsung bagi orang tua dengan pengelola. Harapan itulah yang akan kami jawab, bukan dengan kata-kata hari ini saja, melainkan dengan langkah-langkah yang bisa disaksikan," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....