Karhutla Rinjani Capai 1.098,75 Hektare, Satu Titik Api Masih Dipantau

  • 28 Sep 2026 21:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Gunung Rinjani meluas dengan luas areal terdampak mencapai 1.098,75 hektare.
  • Data luas kebakaran masih bersifat sementara dan terus diperbarui melalui pemantauan dan pemetaan lapangan oleh pihak taman nasional.
  • Kepala Sub Bagian Tata Usaha Taman Nasional Gunung Rinjani, Astekita Ardiaristo, menjadi sumber informasi utama mengenai perkembangan kebakaran ini.

RRI.CO.ID, Jakarta — Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani terus meluas. Luas areal terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Taman Nasional Gunung Rinjani, Astekita Ardiaristo, mengatakan data tersebut masih bersifat sementara. Pemutakhiran luas area dilakukan melalui pemantauan dan pemetaan lapangan.

Kebakaran pertama kali terdeteksi pada 22 September 2026 sekitar pukul 18.50 WITA. Lokasi awal kebakaran berada di kawasan Bukit Stampol, Resor Torean, Lombok Utara.

“Api pada sejumlah sektor telah berhasil dipadamkan. Namun, kebakaran masih terpantau menyala pada lereng utara Puncak Sangkareang,” ujar Astekita saat berbincang bersama Pro3 RRI, Senin, 28 September 2026.

Astekita mengatakan pemadaman dan pemantauan masih dilakukan di sejumlah sektor. Tim juga memantau pergerakan api untuk mencegah kebakaran meluas.

Satu titik api masih terpantau di sekitar jalur pendakian Senaru. Petugas bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemantauan dan penanganan.

Berdasarkan pemantauan sistem SiPongi, terdapat dua titik panas di kawasan tersebut. Sementara pemantauan langsung petugas menemukan satu titik dengan kepulan asap.

“Kondisi sekarang masih dalam penanganan. Tim terus melakukan pemantauan untuk memastikan api tidak meluas ke kawasan lainnya,” katanya.

Kondisi cuaca turut memengaruhi proses pemadaman di kawasan Rinjani. Angin kencang dan vegetasi yang kering membuat api lebih mudah bergerak.

Vegetasi yang terbakar didominasi rumput, semak, savana pegunungan, dan vegetasi bawah. Kondisi medan yang terjal dan lokasi yang jauh juga menyulitkan mobilisasi petugas.

Hingga 27 September, penanganan karhutla melibatkan sekitar 90 personel dan tenaga pendukung. Mereka berasal dari Balai Dalkarhut Jawa Bali Nusra, Manggala Agni, KPH Rinjani Barat, Masyarakat Peduli Api, dan Polsek Bayan.

“Kami menggunakan metode pemadaman manual untuk menangani api di lapangan. Salah satu peralatan yang digunakan adalah 'gepyok' untuk memadamkan api,” ujarnya.

Kebakaran yang masih berlangsung membuat pengelola TNGR mengutamakan keselamatan pengunjung. Jalur pendakian Torean dan Senaru ditutup sementara selama proses penanganan berlangsung.

Sejumlah pendaki yang sebelumnya memilih Senaru atau Torean sebagai jalur keluar diarahkan melalui Sembalun. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani belum menetapkan waktu pembukaan kembali jalur tersebut.

Jalur akan dibuka setelah hasil asesmen memastikan kondisi kawasan aman bagi pengunjung. Pemantauan dan penanganan karhutla masih dilakukan hingga seluruh titik api dinyatakan terkendali. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....