Kementerian PU Bangun 40 Sabo Dam untuk Perkuat Mitigasi Banjir di Aceh
- 19 Sep 2026 23:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Pekerjaan Umum membangun 40 unit Sabo Dam yang tersebar di enam daerah aliran sungai (DAS) di Aceh sebagai respons cepat terhadap banjir dan longsor November 2025.
- Sabo Dam berfungsi memperkuat sistem mitigasi terhadap banjir, aliran sedimen, dan material debris untuk melindungi kawasan hilir dan permukiman masyarakat.
- Penanganan kawasan hulu melalui pembangunan infrastruktur ini dirancang untuk mengendalikan material sedimen sebelum mencapai permukiman dan area yang lebih rendah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membangun 40 unit Sabo Dam yang tersebar di enam daerah aliran sungai (DAS) di Aceh. Langkah tersebut merupakan bagian dari percepatan penanganan kawasan hulu pascabanjir dan longsor yang terjadi pada November 2025 lalu.
Pembangunan Sabo Dam tersebut sekaligus memperkuat sistem mitigasi terhadap banjir, aliran sedimen, dan material debris. Penanganan kawasan hulu dilakukan untuk mengendalikan material sedimen sebelum mencapai kawasan hilir dan permukiman masyarakat.
Dari 40 unit Sabo Dam yang direncanakan, dua unit kini telah memasuki tahap konstruksi. Keduanya berada di DAS Tamiang, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, dengan progres keseluruhan mencapai 32,84 persen.
Dua Sabo Dam tersebut yakni TM-D.11 di Pepelah dan TM-SP.12 kawasan Pintu Rime. Pembangunan keduanya diarahkan mengendalikan aliran sedimen sekaligus mengurangi energi aliran dari kawasan hulu.
“Ini merupakan bagian dari upaya kita untuk mengendalikan aliran air sekaligus material sedimen dan debris dari kawasan hulu. Dengan begitu, risiko luapan yang menuju permukiman masyarakat dapat dikurangi, khususnya ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi,” ujar Menteri PU Dody Hanggodo dalam keterangan tertulis Sabtu, 19 September 2026.
Pembangunan tersebut merupakan penanganan permanen setelah banjir dan longsor melanda DAS Tamiang November 2025. Bencana tersebut membawa material sedimen dari kawasan hulu menuju hilir hingga menyebabkan pendangkalan sungai.
Menteri Dody mengatakan penanganan bencana membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan infrastruktur pengendali sedimen juga berkaitan dengan penguatan ketahanan nasional.
“Bencana tidak bisa lagi dipandang sebagai pekerjaan sektoral semata. Ini harus dibaca sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional yang menyentuh langsung kehidupan rakyat,” katanya.
Adapun enam lokasi pembangunan Sabo Dam tersebar pada DAS Tripa, Meureudu, Jambo Aye, Peusangan, Tamiang, serta Singkil. Pembangunan tersebut mencakup wilayah Gayo Lues, Pidie Jaya, Aceh Timur, Bireuen, Aceh Tengah, dan Bener Meriah.
Khusus Paket Pengendali Sedimen DAS Tamiang, nilai kontraknya mencapai Rp70 miliar bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pekerjaan tersebut memiliki waktu pelaksanaan 217 hari kalender dan ditargetkan selesai pada akhir Desember 2026.
Konstruksi dilaksanakan PT Nindya Karya (Persero) berdasarkan kontrak yang dimulai pada 20 Mei 2026 lalu. Setelah berfungsi, kapasitas tampungan Sabo Dam akan dipelihara melalui pengerukan material sedimen secara berkelanjutan.
Pemeliharaan tersebut dilakukan untuk menjaga kapasitas tampungan dan memastikan fungsi pengendalian sedimen tetap optimal. Kementerian PU menerapkan prinsip build back better untuk membangun infrastruktur pascabencana yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....