Menteri Ekraf: Cerita Pulih Jadi Ruang Warga Tapsel Bangkit

  • 18 Sep 2026 01:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemulihan pascabencana tak hanya soal membangun kembali rumah dan infrastruktur
  • Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) mengajak masyarakat Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mengubah pengalaman menghadapi bencana menjadi karya kreatif melalui fotografi dan storytelling
  • Ajakan tersebut disampaikan melalui program “Cerita Pulih: Pelatihan Fotografi dan Storytelling”

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemulihan pascabencana tak hanya soal membangun kembali rumah dan infrastruktur. Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) mengajak masyarakat Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mengubah pengalaman menghadapi bencana menjadi karya kreatif melalui fotografi dan storytelling.

Ajakan tersebut disampaikan melalui program “Cerita Pulih: Pelatihan Fotografi dan Storytelling”. Ini yang digelar di Aula Hunian Sementara yang kini menjadi hunian tetap masyarakat Desa Napa, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Kamis, 17 September 2026.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik. Menurutnya, masyarakat juga perlu mendapatkan ruang untuk membangun kembali kreatifitas, dan peluang ekonomi.

“Pemulihan pascabencana bukan hanya membangun kembali, tetapi juga memulihkan semangat, kapasitas, kreatifitas, dan produktifitas masyarakat. Melalui ekonomi kreatif, kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi objek cerita, tetapi juga menjadi pencerita dan pencipta, dari karya-karya kreatif inilah dapat lahir sumber pendapatan serta peluang ekonomi baru bagi masyarakat di daerah,” kata Menekraf Teuku Riefky.

Dalam pelatihan ini, peserta dibekali teknik dasar fotografi, penulisan, dan storytelling. Mereka juga diajak menghasilkan karya yang merepresentasikan kondisi serta pengalaman masyarakat Tapanuli Selatan pascabencana.

Deputi Bidang Kreatifitas Media Kemenekraf, Cecep Rukendi, mengatakan fotografi memiliki kekuatan untuk merekam perjalanan masyarakat secara dekat dan personal. Foto tidak hanya menjadi dokumentasi kerusakan akibat bencana, tetapi juga dapat menjadi wadah untuk menceritakan bagaimana masyarakat bertahan, beradaptasi, dan mulai membangun kembali kehidupannya.

“Fotografi dan storytelling menjadi sarana penting untuk mempromosikan profesi dan karya kreatif masyarakat terdampak bencana di Tapanuli Selatan, cerita tentang bagaimana masyarakat bertahan, bangkit, dan membangun kembali kehidupannya memiliki nilai dan makna. Pemerintah akan terus hadir dan membersamai masyarakat. ita pulih bersama, bangkit berdaya, dan menyongsong masa depan yang lebih cerah,” ucap Cecep.

Pesan tersebut sejalan dengan pelaksanaan Cerita Pulih yang memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat agar pengalaman pascabencana dapat diolah menjadi karya fotografi dan cerita yang memiliki nilai komunikasi sekaligus potensi ekonomi. Setelah mendapatkan materi dari narasumber, peserta yang berjumlah 65 orang ini langsung melakukan praktek singkat di area Huntara (huntara).

Kemenekraf berharap agar pelatihan fotografi hari ini bisa dimanfaatkan untuk membantu UMKM dan pelaku ekonomi kreatif lokal Tapanuli Selatan yang terdampak bencana. Ini untuk lebih mempromosikan produk melalui media sosial dan marketplace.

Direktur Penerbitan dan Fotografi Kemenekraf, Iman Santosa, berharap masyarakat dapat aktif berkarya dan menceritakan proses pemulihan pascabencana yang terjadi di Tapanuli Selatan, meski hanya menggunakan smartphone. “Meski waktunya terbatas, kami ingin masyarakat mampu mendokumentasikan pengalaman dan lingkungannya, menghasilkan karya, serta melihat peluang pemanfaatan karya tersebut melalui ekosistem digital yang saat ini terus berkembang,” ujarnya.

Peserta pelatihan fotografi dan storytelling Kemenekraf, Hary Dalimunte, yang merupakan salah satu warga terdampak bencana di Tapanuli Selatan, mengaku mendapatkan pengetahuan baru tentang teknik pencahayaan, sudut pengambilan gambar. Hingga penulisan cerita yang dapat digunakan untuk mengangkat kehidupan pascabencana.

Hary pun ingin memanfaatkan kemampuan tersebut untuk menceritakan kondisi Tapanuli Selatan kepada masyarakat di luar daerah melalui foto. Khususnya tentang perjuangan warga terdampak bencana yang kini tinggal di hunian sementara untuk kembali bangkit secara ekonomi.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami, terutama belajar fotografi menggunakan telepon seluler, lighting, sudut pengambilan gambar, hingga penulisan. Insyaallah ilmu ini bisa kami kembangkan untuk membuat konten sekaligus membuka peluang ekonomi, saya juga ingin menceritakan kehidupan warga di huntara melalui foto, termasuk bagaimana kami memanfaatkan lahan yang terbatas untuk berkebun dan bangkit setelah bencana,” kata Hary Dalimunte.

Program ini turut melibatkan Asosiasi Pewarta Foto Indonesia (APFI) Medan dan Pena Lingkar Toba sebagai instruktur. Pelaksanaan kegiatan juga mendapat dukungan dari Xiaomi Indonesia sebagai bagian dari kolaborasi dalam mendukung proses pembelajaran fotografi berbasis perangkat digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....