Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Halmahera Utara, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
- 14 Sep 2026 21:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gempa bumi tektonik magnitudo 6,2 mengguncang wilayah timur laut Pulau Doi, Halmahera Utara, Maluku Utara, Senin 14 September 2026.
- BMKG akan terus memantau aktivitas gempa bumi dan kemungkinan gempa susulan
RRI.CO.ID, Jakarta - Gempa bumi tektonik mengguncang timur laut Pulau Doi, Halmahera Utara, Maluku Utara, Senin, 14 September 2026. BMKG menyebut hasil pemutakhiran menunjukkan gempa berkekuatan magnitudo 5,9 dan tidak berpotensi tsunami.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, gempa terjadi pukul 17.58.04 WIB dengan kedalaman 147 kilometer. Episenter gempa berada di laut sekitar 50 kilometer timur laut Pulau Doi, Maluku Utara.
“Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 2,52 derajat Lintang Utara dan 128,17 derajat Bujur Timur. Tepatnya di laut sekitar 50 kilometer timur laut Pulau Doi, Maluku Utara,” kata Wijayanto dalam keterangan tertulis, Senin, 14 September 2026.
Wijayanto menjelaskan, gempa tersebut merupakan gempa bumi menengah akibat deformasi di dalam Lempeng Laut Maluku. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik. Atau thrust fault,” ujarnya.
Berdasarkan pemodelan tsunami, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. BMKG juga belum mendeteksi aktivitas gempa bumi susulan hingga pukul 18.15 WIB.
Berdasarkan estimasi shakemap, gempa dirasakan dengan intensitas IV MMI di Morotai Selatan Barat, Morotai Jaya, Loloda Utara, Kota Daruba, dan Kota Tobelo. Sementara intensitas III MMI dirasakan di Kota Jailolo dan Kota Ternate.
Intensitas IV MMI berarti getaran dirasakan banyak orang di dalam rumah pada siang hari. Sementara intensitas III MMI menunjukkan getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seperti truk yang melintas.
Wijayanto mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat juga diminta menghindari bangunan retak atau rusak akibat gempa.
“Menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi. Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” kata Wijayanto.
BMKG akan terus memantau aktivitas gempa dan kemungkinan gempa susulan. Informasi terbaru akan disampaikan kepada pemangku kepentingan dan masyarakat melalui kanal resmi BMKG.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....