Kementerian PU Bangun JIAT Hadapi Kekeringan di Papua Barat Daya

  • 10 Sep 2026 09:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Pekerjaan Umum membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kampung Kalobo dan Waibu, Papua Barat Daya untuk menghadapi ancaman kekeringan.
  • Infrastruktur air tanah menjadi langkah strategis menjaga keberlanjutan pertanian di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air permukaan.
  • Pembangunan JIAT merupakan bagian dari upaya memperkuat infrastruktur sumber daya air nasional menghadapi risiko kekeringan di berbagai wilayah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat infrastruktur sumber daya air menghadapi ancaman kekeringan di sejumlah wilayah. Salah satunya melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) bagi petani di Kampung Kalobo dan Waibu, Papua Barat Daya.

Penyediaan jaringan irigasi air tanah menjadi langkah strategis menjaga keberlanjutan pertanian di wilayah terdampak kekeringan. Infrastruktur ini terutama dibutuhkan daerah yang memiliki keterbatasan sumber air permukaan dan menghadapi cuaca kering.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan pembangunan JIAT menjadi langkah strategis menghadapi kemarau panjang akibat fenomena El Nino. Menurutnya, dengan sistem irigasi yang lebih andal, produktivitas pertanian diharapkan meningkat signifikan.

“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air. Sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” katanya dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis, 10 September 2026.

Selain itu, menurut Menteri Dody, pengembangan JIAT tidak cukup hanya membangun sumur dan pompa untuk menyediakan sumber air. Ia menyebut infrastruktur tersebut juga perlu dilengkapi jaringan saluran tersier agar air mengalir efektif hingga lahan pertanian.

JIAT sendiri memanfaatkan air tanah melalui sumur bor dan pompa untuk mengairi lahan pertanian yang membutuhkan pasokan. JIAT di Kalobo dan Waibu, jaringan tersebut dirancang melayani lahan pertanian dengan luas sekitar 100 hektare.

Infrastruktur itu diproyeksikan memberikan manfaat bagi sekitar 90 petani di wilayah tersebut. Dalam kondisi kekeringan, irigasi air tanah menjadi upaya memastikan lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air.

Secara teknis, jaringan irigasi tersebut memiliki panjang sekitar 10 kilometer dan dilengkapi 80 bangunan pendukung. Sistem tersebut memiliki 10 titik sumur bor dengan kapasitas debit sekitar 12 liter per detik.

Air kemudian dialirkan melalui jaringan dengan debit layanan sekitar 2,5 liter per detik pada setiap titik. Jaringan tersebut juga dilengkapi bak penampung berkapasitas 50 meter kubik untuk mendukung distribusi air pertanian.

Keberadaan JIAT diharapkan mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan selama periode kekeringan berlangsung. Dengan sumber air alternatif, kegiatan budidaya pertanian tetap dapat berlangsung ketika kondisi cuaca mengalami kekeringan.

Pembangunan infrastruktur tersebut juga diharapkan membuka peluang peningkatan produksi dan pendapatan petani setempat. Namun, pembangunan infrastruktur air di Kalobo menghadapi tantangan geografis dan aksesibilitas wilayah yang cukup berat.

Dari Kota Sorong, perjalanan menuju Kampung Kalobo ditempuh menggunakan speedboat sejauh sekitar 26,3 kilometer. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapai lokasi pembangunan infrastruktur sumber daya air.

Kondisi geografis itu tidak mengurangi komitmen pemerintah menghadirkan infrastruktur dasar bagi masyarakat wilayah tersebut. Kementerian PU terus mendorong pembangunan infrastruktur sumber daya air guna memperkuat ketahanan air dan pangan.

Upaya tersebut diarahkan untuk menghadapi ancaman kekeringan serta perubahan kondisi iklim yang terus berlangsung. Melalui JIAT, pemerintah berupaya memastikan ketersediaan air agar pertanian tetap produktif di tengah kekeringan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....