Perkuat Budaya Zakat, BAZNAS Dorong Literasi Filantropi Modern Generasi Muda
- 08 Sep 2026 00:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mendorong penguatan literasi filantropi Islam modern, khususnya di kalangan generasi muda.
- Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan budaya berzakat, berinfak, dan bersedekah lintas generasi.
- Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, menyampaikan hal itu dalam Sesi Inspirasi Hari Bermuhammadiyah (HBM) 13.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mendorong penguatan literasi filantropi Islam modern, khususnya di kalangan generasi muda. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan budaya berzakat, berinfak, dan bersedekah lintas generasi.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Dr. H. Rizaludin Kurniawan, menyampaikan hal itu dalam Sesi Inspirasi Hari Bermuhammadiyah (HBM) 13. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan, Sabtu, 5 September 2026.
Rizaludin mengatakan, penguatan literasi diperlukan karena masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam menunaikan zakat. Kondisi tersebut tercermin dalam riset Indeks Literasi Zakat yang dilakukan BAZNAS secara berkala.
"Dari riset BAZNAS sejak 2020, 2022, dan 2024, ada masalah yang cukup krusial, yaitu adanya gap antara pengetahuan dan perilaku orang membayar zakat," ujarnya. "Gap antara pengetahuan dan perilaku inilah yang bisa diukur," ucapnya.
Menurut Rizaludin, kesenjangan tersebut perlu menjadi perhatian karena jumlah masyarakat yang menunaikan kewajiban zakat masih relatif kecil dibandingkan potensi zakat di Indonesia. Karena itu, literasi zakat perlu diperkuat agar pengetahuan masyarakat dapat mendorong perubahan perilaku.
Rizaludin juga menyoroti pemahaman generasi muda terhadap perbedaan zakat, infak, dan sedekah. Ia mengatakan, masih terdapat generasi Z yang belum memahami tata cara pembayaran zakat fitrah maupun penghitungan zakat mal.
"Saya mendapatkan eksperimen sosial di kalangan anak-anak Generasi Z dengan bertanya tentang perbedaan zakat, infak, dan sedekah," ujarnya. "Banyak di antara mereka yang tidak tahu, termasuk bagaimana praktik membayar zakat fitrah dan bagaimana zakat mal dihitung," katanya.
Menurutnya, pendidikan filantropi Islam perlu diberikan sejak dini dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Pembelajaran tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengenalkan nilai, makna, hakikat, dampak, dan manfaat zakat.
Rizaludin mengusulkan pendidikan filantropi Islam dilengkapi dengan kegiatan praktik. Salah satunya melalui manasik zakat dan kegiatan ekstrakurikuler filantropi Islam di lingkungan pendidikan.
Ia menambahkan, penguatan literasi filantropi Islam menjadi bagian dari upaya BAZNAS mengembangkan konsep value-driven dalam pengelolaan zakat. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadikan filantropi Islam sebagai nilai yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
"Basisnya adalah value, bagaimana memahami filantropi Islam menjadi sebuah amal saleh yang nyata bagi kebangkitan umat Islam," katanya.
Penguatan literasi zakat dinilai penting untuk mempersempit jarak antara pemahaman dan praktik masyarakat. BAZNAS mendorong generasi muda tidak hanya memahami kewajiban zakat, tetapi juga melihat zakat sebagai bagian dari kepedulian sosial dan kontribusi bagi kemajuan umat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....