Debit Sungai Mahakam Surut akibat Kemarau, PU Tingkatkan Pemantauan
- 05 Sep 2026 11:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Pekerjaan Umum terus memantau penurunan debit Sungai Mahakam yang disebabkan oleh kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino.
- Penurunan debit air Sungai Mahakam berpotensi mengganggu ketersediaan air baku dan menghambat aktivitas transportasi sungai bagi masyarakat setempat.
- Menteri PU Dody Hanggodo menginstruksikan Balai Wilayah Sungai IV Samarinda untuk melakukan pemantauan berkelanjutan sebagai langkah mitigasi dampak kemarau.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memantau penurunan debit Sungai Mahakam akibat kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketersediaan air baku serta aktivitas transportasi sungai masyarakat setempat.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pemantauan dilakukan Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Samarinda sebagai langkah mitigasi menghadapi dampak kemarau. Ia menginstruksikan pemantauan kondisi Sungai Mahakam untuk mengantisipasi dampak penurunan debit.
“Kami instruksikan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk terus memantau kondisi Sungai Mahakam. Hal ini sebagai langkah mitigasi dampak kemarau,” kata Menteri Dody dalam keterangan tertulis, Sabtu, 5 September 2026.
Secara umum, Kalimantan Timur memiliki curah hujan tahunan yang cukup tinggi, yakni berkisar 3.600–3.700 milimeter. Namun, memasuki puncak musim kemarau Juli-Agustus 2026 terjadi penurunan curah hujan yang cukup signifikan.
Pada Juli 2026, curah hujan tercatat hanya sekitar 289 milimeter. Angka tersebut kemudian turun drastis menjadi 25 milimeter pada Agustus 2026.
Minimnya hujan juga menyebabkan debit Sungai Mahakam menurun, terutama pada wilayah bagian hulu sungai. Sementara di bagian hilir, debit sungai juga mengalami penurunan, namun fluktuasinya relatif lebih stabil.
Kondisi tersebut dipengaruhi efek damping atau peredaman serta baseflow dari anak-anak Sungai Mahakam. Faktor lainnya juga berasal dari anak sungai sejumlah kabupaten lain serta pengaruh pasang surut.
Sementara itu, Kepala BWS IV Samarinda Andri Rachmanto Wibowo menyampaikan penurunan muka air berdampak langsung terhadap transportasi sungai. “Dengan kondisi muka air sungai saat ini, transportasi air hanya dapat melayani hingga Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat,” ujarnya.
Menurutnya, hal ini menyebabkan pendistribusian bahan pangan dan bahan bakar minyak (BBM) menuju Kabupaten Mahakam Ulu mengalami kendala. Andri menyebut jalur darat menjadi satu-satunya akses distribusi dengan waktu tempuh sekitar dua kali dua puluh empat jam.
Ia menambahkan keterbatasan akses tersebut turut berdampak terhadap ketersediaan BBM dan kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah dalam meminimalkan dampak kemarau terhadap aktivitas masyarakat.
Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) terus memantau perkembangan debit dan muka air. Pemantauan juga dilakukan bersama pemerintah daerah untuk meminimalkan dampak keterbatasan transportasi dan distribusi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....