Konservasi Mangrove Dinilai Jadi Bagian dari Ketahanan Nasional
- 01 Sep 2026 06:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Konservasi mangrove dianggap sebagai bagian penting dalam memperkuat ketahanan nasional melalui perlindungan ekosistem pesisir.
- Kegiatan penanaman mangrove dan aksi bersih-bersih di Pulau Pudut, Tanjung Benoa melibatkan TNI, Polri, pemerintah, masyarakat adat, dunia usaha, akademisi, mahasiswa, dan komunitas lingkungan.
- Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Konservasi Alam Nasional 2026.
RRI.CO.ID, Denpasar - Konservasi mangrove dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan nasional melalui perlindungan ekosistem pesisir. Hal itu mengemuka dalam kegiatan penanaman mangrove dan aksi bersih-bersih di Pulau Pudut, Tanjung Benoa, Bali, Minggu 30 Agustus 2026.
Kegiatan bertema “Konservasi sebagai Pilar Ketahanan Nasional” tersebut melibatkan TNI, Polri, pemerintah, masyarakat adat, dunia usaha, akademisi, mahasiswa, dan komunitas lingkungan. Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Konservasi Alam Nasional 2026.
Founder Kawan Alam Indonesia, Henny Paula Sitohang, mengatakan kerusakan lingkungan dapat berdampak terhadap ketahanan masyarakat pesisir. Menurutnya, konservasi tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga keberlangsungan kehidupan dan sumber daya masyarakat.
“Ketahanan nasional tidak hanya bicara tentang pertahanan dan keamanan. Ketika lingkungan rusak, masyarakat pesisir terdampak dan sumber daya alam terganggu, maka ketahanan masyarakat juga ikut terdampak,” ujarnya.
Henny mengatakan konservasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak karena ekosistem pesisir saling terhubung. Menurutnya, penanaman mangrove harus disertai upaya menjaga sungai dan kawasan sekitar.
“Hari ini kita ingin menunjukkan bahwa konservasi itu membutuhkan banyak tangan. Ada TNI, Polri, pemerintah, masyarakat adat, dunia usaha, kelompok nelayan, mahasiswa, komunitas dan relawan,” katanya.
Ia menjelaskan kegiatan penanaman mangrove dipadukan dengan aksi bersih-bersih kawasan Tahura Ngurah Rai. Peserta membersihkan kawasan mulai sekitar Pal 9 hingga menyusuri aliran sungai menuju arah Pura Deluang Sari.
“Kita menanam mangrove, tetapi kita juga membersihkan sungai dan kawasan di sekitarnya. Karena mangrove, sungai dan laut merupakan satu kesatuan,” ujarnya.
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Denpasar, Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa, mengatakan perlindungan laut harus dimulai dari menjaga ekosistem pesisir. Menurutnya, mangrove, sungai, dan laut merupakan satu kesatuan yang saling mendukung.
“Kalau kita berbicara tentang menjaga laut, kita tidak bisa hanya melihat lautnya saja. Pesisir, mangrove dan sungai merupakan satu kesatuan ekosistem yang saling berhubungan,” katanya.
Ary mengatakan penanaman mangrove dan pembersihan kawasan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Upaya tersebut dinilai tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada wilayah pesisir.
“Kegiatan seperti ini harus terus didukung karena dampaknya bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk masyarakat yang kehidupannya bergantung pada wilayah pesisir dan laut,” ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi Galangan Samudera Indonesia (AGSI), Alif Fian Nurcahyamto, mengatakan dunia usaha memiliki tanggung jawab menjaga keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, keberlanjutan aktivitas ekonomi juga bergantung pada kondisi lingkungan yang sehat.
“Konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas lingkungan. Dunia usaha juga harus mengambil bagian,” katanya.
Alif berharap kegiatan konservasi tidak berhenti pada penanaman mangrove. Menurutnya, keberlanjutan program membutuhkan kepedulian bersama untuk merawat kawasan.
“Harapannya bukan hanya hari ini kita menanam, kemudian selesai. Yang lebih penting adalah bagaimana ada kepedulian bersama untuk merawat kawasan ini secara berkelanjutan,” ujarnya.
Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai, I Putu Agus Juliartawan, mengatakan kawasan mangrove memiliki fungsi ekologis penting. Karena itu, pengelolaan kawasan membutuhkan dukungan berbagai pihak.
“Tahura Ngurah Rai merupakan kawasan yang harus kita jaga bersama. Pemerintah dan pengelola kawasan tidak bisa bekerja sendiri,” katanya.
Agus mengatakan penanaman mangrove harus disertai pemeliharaan kawasan. Ia juga menilai edukasi masyarakat penting untuk memastikan keberlanjutan kawasan konservasi.
“Penanaman mangrove harus berjalan bersama dengan pemeliharaan kawasan. Kalau kita menanam tetapi kawasan tidak dijaga, hasilnya tentu tidak akan maksimal,” ujarnya.
Komandan Pangkalan Udara I Gusti Ngurah Rai, Kolonel PNB David Dwi Martin W., mengatakan menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Ia menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi kekuatan dalam menjaga ekosistem pesisir.
“Hari ini kita melihat banyak pihak berkumpul dan bergerak bersama. Ada TNI, Polri, pemerintah, masyarakat dan komunitas,” katanya.
David berharap semangat kolaborasi tersebut terus dilanjutkan dalam kegiatan konservasi berikutnya. Menurutnya, perlindungan lingkungan membutuhkan konsistensi dan keterlibatan masyarakat.
“Semangat gotong royong seperti ini harus terus kita pertahankan. Konservasi bukan pekerjaan satu hari, tetapi pekerjaan bersama yang membutuhkan konsistensi,” ujarnya.
Kegiatan di Pulau Pudut melibatkan AGSI, Kawan Alam Indonesia, TNI, Polri, UPTD Tahura Ngurah Rai, masyarakat adat, organisasi mahasiswa, dan komunitas lingkungan. Peserta menanam mangrove di kawasan Pal 9 serta membersihkan sampah di sekitar kawasan Tahura Ngurah Rai.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan ekosistem pesisir membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Mangrove yang terjaga diharapkan dapat mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus kehidupan masyarakat pesisir.
Konservasi juga dinilai tidak berhenti pada penanaman bibit mangrove. Pemeliharaan, kebersihan kawasan, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan ekosistem tetap berfungsi.
Melalui kegiatan tersebut, Pulau Pudut menjadi salah satu ruang kolaborasi dalam menjaga ekosistem pesisir Bali. Upaya menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....