Pengusaha Kalbar Hibahkan Teknologi AI Prediksi Karhutla
- 27 Agt 2026 00:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pengusaha sekaligus pengembang teknologi asal Kalimantan Barat, Hajon Mahdy, menghibahkan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
- Teknologi yang dikembangkan Hotama Technologies tersebut dirancang memetakan potensi risiko karhutla hingga 24 bulan ke depan
- Hajon mengatakan, sistem menggunakan pendekatan predictive analytics dengan mengolah sejumlah variabel dan data untuk menghasilkan pemetaan tingkat risiko karhutla
RRI.CO.ID, Pontianak - Pengusaha sekaligus pengembang teknologi asal Kalimantan Barat, Hajon Mahdy, menghibahkan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknologi yang dikembangkan Hotama Technologies tersebut dirancang memetakan potensi risiko karhutla hingga 24 bulan ke depan.
Hajon mengatakan, sistem menggunakan pendekatan predictive analytics dengan mengolah sejumlah variabel dan data untuk menghasilkan pemetaan tingkat risiko karhutla. Proyeksi tersebut bersifat probabilistik dan dapat diperbarui mengikuti perkembangan data terbaru.
“Selama ini teknologi banyak digunakan ketika titik api sudah muncul. Kami ingin mendorong pendekatan yang lebih preventif. Dengan data yang cukup, AI dapat membantu membaca pola dan memberikan gambaran risiko jauh lebih awal, sehingga kita memiliki waktu untuk melakukan mitigasi,” kata Hajon, Kamis, 27 Agustus 2026.
Teknologi tersebut telah diperkenalkan dalam forum lintas instansi terkait penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Forum membahas potensi karhutla, kondisi gambut, pemetaan wilayah berisiko, serta kebutuhan mitigasi berbasis sistem informasi.
Pertemuan tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain PMI Kalimantan Barat, instansi pemerintah, lembaga perbankan, serta pihak terkait lainnya. Kolaborasi lintas sektor diperlukan karena kemampuan sistem prediksi bergantung pada ketersediaan dan kualitas data yang digunakan.
Salah satu fitur yang dikembangkan adalah Peat Fire Vulnerability Index (PFVI). Indeks tersebut digunakan untuk membantu mengidentifikasi dan memetakan tingkat kerentanan kebakaran di kawasan gambut.
Menurut Hajon, karakteristik kebakaran gambut membutuhkan pendekatan khusus karena api dapat menjalar di bawah permukaan ketika kondisi gambut mengering. Kondisi tersebut membuat kebakaran lebih sulit dideteksi maupun dipadamkan.
“Kalau kita baru bergerak setelah hotspot muncul, kita sudah berada pada fase kejadian, Peat Fire Vulnerability Index kami kembangkan agar kita bisa melihat kerentanan kawasan lebih awal. Tujuannya sederhana, jangan menunggu ada api untuk mulai bergerak,” ujarnya.
Informasi dari sistem tersebut diharapkan dapat menjadi data pendukung untuk menentukan prioritas patroli, pembasahan gambut, pengelolaan sumber air. Hingga penempatan sumber daya di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi.
Hajon mengatakan, teknologi tersebut mendorong penanganan karhutla bergerak dari pendekatan responsif menuju preventif dan prediktif. Sistem memadukan informasi kondisi terkini, pemetaan kerentanan gambut, serta proyeksi risiko ke depan.
“Bayangkan jika kita mengetahui sebuah kawasan memiliki tren risiko yang meningkat beberapa bulan sebelum memasuki kondisi kritis. Pemerintah dan petugas lapangan memiliki waktu untuk melakukan intervensi,” katanya.
Ia menegaskan teknologi tersebut dihibahkan tanpa biaya untuk mendukung mitigasi karhutla di Kalimantan Barat. Tahap pengembangan selanjutnya membutuhkan kolaborasi lintas sektor, terutama dalam integrasi data yang relevan.
“Teknologinya kami hibahkan, kami tidak meminta pemerintah membeli sistem ini. Yang kami harapkan adalah kolaborasi dan akses terhadap data yang relevan agar AI dapat bekerja semakin baik dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Hajon, pemanfaatan teknologi dapat melibatkan pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup dan kebencanaan, pengelola ekosistem gambut, akademisi, hingga masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat upaya mitigasi sebelum kebakaran terjadi.
“Kalimantan ini rumah kami. Dan kami ingin teknologi yang kami bangun ikut menjaganya,” kata Hajon.
Pengembangan sistem selanjutnya diarahkan pada pengujian dan integrasi data lintas sektor. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pemetaan risiko sekaligus mendukung pengambilan keputusan dalam pencegahan karhutla di Kalimantan Barat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....