Asap Karhutla Ganggu Aktivitas Nelayan Tradisional di Kalimantan Utara

  • 23 Agt 2026 01:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara signifikan mengganggu aktivitas penangkapan ikan nelayan tradisional di Kalimantan Utara.
  • Jarak pandang yang sangat terbatas akibat asap menyulitkan nelayan dalam menggunakan pulau dan gunung sebagai patokan arah navigasi tradisional.
  • Dampak karhutla terhadap sektor perikanan tradisional memerlukan perhatian khusus dalam penanganan bencana kabut asap di wilayah Kalimantan Utara.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu aktivitas nelayan tradisional di Kalimantan Utara. Jarak pandang yang terbatas membuat nelayan kesulitan menggunakan pulau dan gunung sebagai patokan arah.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kalimantan Utara, Rustan, mengatakan kondisi tersebut terjadi setiap tahun. Menurutnya, kabut asap biasanya mulai mengganggu aktivitas nelayan pada Agustus.

"Fenomena karhutla ini setiap tahun, setiap bulan Agustus selalu terjadi. Sementara nelayan tradisional seperti kita hanya mengandalkan insting, tidak mengandalkan teknologi," ucap Rustan, saat berbincang bersama Pro3 RRI, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Rustan mengatakan asap tebal membuat nelayan kesulitan menentukan arah menuju lokasi tangkapan. Pulau dan gunung yang biasanya menjadi patokan tidak lagi terlihat dari laut.

"Volume melaut kita dikurangi, karena kita sangat terdampak. Kita sudah tidak bisa menentukan haluan menuju lokasi tangkap, karena tanda-tanda alam sudah tidak bisa terbaca lagi," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat nelayan mengurangi jarak tempuh saat mencari ikan. Rustan mengatakan nelayan yang biasanya melaut tujuh hingga 10 mil dari daratan kini hanya mencapai dua hingga tiga mil.

"Kita tidak berani jauh-jauh ke tengah, karena kalau melautnya terlalu jauh, khawatir BBM habis. Biasanya kita melaut tujuh sampai sepuluh mil dari daratan, sekarang hanya sekitar dua sampai tiga mil," katanya.

Gangguan jarak pandang bahkan terjadi hingga malam hari. Rustan mengatakan lampu suar navigasi di Kota Tarakan yang biasanya menjadi penanda arah juga tidak terlihat.

Berkurangnya aktivitas melaut turut memengaruhi hasil tangkapan nelayan tradisional. Rustan mengatakan kondisi tersebut berdampak pada pendapatan karena nelayan bergantung pada hasil tangkapan setiap hari.

Ketika volume melaut berkurang drastis akibat kabut asap, hasil tangkapan pun ikut menurun. Meski demikian, para nelayan tidak bisa berhenti melaut karena itu adalah satu-satunya mata pencaharian mereka.

Lebih lanjut, paparan asap karhutla juga mulai memengaruhi kesehatan para nelayan. Rustan menyebut para nelayan mengalami batuk-batuk selama hampir dua minggu terakhir akibat paparan asap.

Sementara itu, Kementerian Kehutanan menyebut operasi pengendalian karhutla di Kalimantan telah memasuki hari ke-48. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan Yudho Shekti Mustiko mengatakan pemadaman darat dan udara terus diperkuat.

"Kami menambah 45 personel Manggala Agni, melakukan rotasi petugas, serta memperkuat sumber air, peralatan, logistik, dan layanan kesehatan," ucap Yudho, dikutip dari Kementerian Kehutanan RI, Sabtu, 22 Agustus 2026. Berdasarkan data sementara, luas karhutla di Kalimantan Utara tercatat sekitar 400 hektare. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....