Akses Jadi Kendala, Human Initiative Percepat Bantuan Gempa NTT
- 21 Agt 2026 15:19 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Human Initiative mengalami hambatan signifikan dalam mengakses wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur karena kerusakan infrastruktur jalan dan longsor.
- Tim manusiawi Human Initiative mulai bergerak sehari setelah terjadinya gempa untuk memberikan respons darurat kepada penyintas.
- Pembatalan sejumlah penerbangan ke wilayah terdampak menjadi kendala utama dalam penyaluran logistik dan bantuan kemanusiaan karena kondisi pascagempa yang tidak stabil.
RRI.CO.ID, Jakarta – Human Initiative menghadapi kendala akses dalam menyalurkan bantuan kepada penyintas gempa Nusa Tenggara Timur. Kondisi jalan, longsor, serta terbatasnya ketersediaan logistik menjadi tantangan dalam respons darurat.
Manager Humanitarian Program Management Human Initiative, Deni Kurniawan, mengatakan tim bergerak sehari setelah gempa terjadi. Namun, sejumlah penerbangan menuju wilayah terdampak dibatalkan akibat kondisi pascagempa dan gempa susulan.
Tim kemudian memilih jalur alternatif melalui Larantuka sebelum melanjutkan perjalanan menuju Maumere dan wilayah terdampak lainnya. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu berjam-jam karena jarak dan kondisi akses menuju lokasi.
“Kami upayakan maksimal 24 jam segera untuk mencapai lokasi yang terdampak,” ujar Deni kepada Pro3 RRI Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026. Human Initiative juga mengandalkan sekitar 5.000 relawan terdaftar untuk mempercepat respons di berbagai wilayah.
Tim kemudian dibagi dari arah timur dan barat Flores untuk menjangkau sejumlah kabupaten terdampak. Tim dari barat berfokus pada Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.
Sementara itu, tim yang dipimpin Komandan Emergency Response Human Initiative, Subur Rojinawi, menangani Nagekeo, Ngada, dan Ende. Pembagian wilayah dilakukan berdasarkan hasil kaji cepat yang dilakukan tim di lapangan.
Komandan Emergency Response Human Initiative, Subur Rojinawi, mengatakan akses darat menjadi kendala utama menuju Nagekeo. “Dari perjalanan Bajawa ke Nagekeo sendiri itu banyak reruntuhan atau longsoran,” kata Subur.
Kondisi serupa juga ditemukan dalam perjalanan dari Ende menuju Bajawa dan sejumlah wilayah lainnya. Tim harus berhenti di beberapa titik karena longsoran menghambat perjalanan menuju lokasi penyintas.
Ketersediaan logistik juga menjadi tantangan karena sejumlah toko masih tutup setelah gempa terjadi. Tim kemudian mencari persediaan dari sejumlah lokasi sambil berkoordinasi dengan relawan lokal.
Deni mengatakan distribusi bantuan tetap mengikuti prinsip Good Distribution Process meski dilakukan dalam kondisi darurat. Bantuan harus memenuhi prinsip tepat jumlah, tepat sasaran, dan tepat guna bagi penerima.
“Memang kita harus cepat, tapi tentu kita juga memiliki akuntabilitas,” ujar Deni. Human Initiative juga mendokumentasikan proses distribusi sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat dan donatur. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....