Peringatan Tsunami Berakhir, BMKG Catat 37 Gempa Susulan di NTT

  • 15 Agt 2026 10:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pukul 07.30 WIB setelah gempa Magnitudo 7,7 mengguncang Flores, NTT
  • Sebanyak 37 gempa susulan tercatat hingga pukul 07.07 WIB dengan magnitudo 3,6 hingga 6,2
  • Dua orang meninggal dunia, sementara BMKG dan BNPB masih memantau serta memverifikasi dampak gempa

RRI.CO.ID, Jakarta – BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami setelah gempa Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peringatan tersebut berakhir pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan muka laut menunjukkan kondisi aman.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Ia menyebut Gempa berkedalaman 15 kilometer itu memiliki episenter di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo.

“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak. Peringatan dini tsunami sudah dinyatakan berakhir, namun gempa susulan masih terus terjadi,” kata Nelly melalui keterangan tertulis, Sabtu, 15 Agustus 2026.

BMKG mencatat gelombang tsunami tiba di sepuluh titik pesisir dengan ketinggian berbeda. Gelombang tertinggi tercatat di Maurole, Ende, mencapai 0,94 meter pada pukul 05.27 WIB.

Gelombang tsunami juga tercatat di Pelabuhan Kewapante, Flores Timur, Labuan Bajo, Dompu, dan sejumlah wilayah lainnya. BMKG mencatat gelombang terendah berada di Bakalang, Alor, dengan ketinggian 0,14 meter.

Sementara itu, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan aktivitas gempa susulan masih terdeteksi setelah gempa utama. Hingga pukul 07.07 WIB, BMKG mencatat sebanyak 37 gempa susulan dengan magnitudo antara 3,6 hingga 6,2.

Wijayanto menjelaskan wilayah busur belakang Flores memiliki potensi gempa maksimum hingga Magnitudo 7,9. Menurutnya, gempa serupa pernah terjadi pada 1992 dengan kekuatan Magnitudo 7,5 dan memicu tsunami.

“Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M7.5 yang menimbulkan kerusakan dan terjadi tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores,” ucap Wijayanto.

Dari pemantauan awal, guncangan gempa merobohkan beberapa bagian tembok rumah sederhana di sejumlah wilayah terdampak. Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada fasilitas Pelabuhan Maumere dan bangunan Hotel Jayakarta Bajo.

Selain itu, Direktur Seismologi Teknik BMKG Teguh Rahayu mengatakan tim BMKG langsung diterjunkan ke lokasi terdampak. “Tim BMKG mulai hari ini diterjunkan langsung ke lokasi terdampak untuk melakukan survei kerusakan secara menyeluruh,” ucapnya.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi dua orang meninggal dunia akibat gempa berdasarkan data terbaru. Data korban dan kerusakan masih terus dipantau serta diverifikasi bersama pemerintah daerah dan unsur terkait.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas penanganan pascagempa. BNPB juga berupaya mencegah munculnya korban tambahan akibat bahaya setelah gempa.

"Data terbaru yang masuk mengonfirmasi ada dua orang yang meninggal dunia. Informasi ini terus kami pantau dan verifikasi bersama BMKG, BPBD, Pemda, serta unsur terkait agar dapat mengeluarkan data resmi mengenai total kerusakan dan korban jiwa," ujar Berton.

BMKG terus memantau aktivitas gempa susulan dan dinamika tinggi muka laut secara real-time. Masyarakat diminta memeriksa kondisi bangunan dan menjauhi struktur yang mengalami retakan atau kerusakan.

BMKG juga mengimbau masyarakat menyaring informasi dan tidak mudah percaya terhadap kabar yang belum terverifikasi. Informasi resmi dapat dipantau melalui kanal komunikasi terverifikasi BMKG dan aplikasi InfoBMKG.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....