Trenggono Pastikan Penanganan Dugaan Insiden MBG di Papua Berjalan Optimal
- 07 Agt 2026 19:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Kepala BGN Trenggono meninjau langsung penanganan dugaan insiden keamanan pangan Program MBG di Distrik Depapre, Papua
- Peninjauan dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi penerima manfaat berjalan optimal serta memperkuat evaluasi program
- BGN menghentikan sementara operasional Dapur SPPG Yayasan Kasih Iman Samuel Papua sambil menunggu hasil investigasi
- Sebanyak 219 penerima manfaat telah mendapatkan penanganan medis, sementara dugaan penyebab masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Kepala BGN Trenggono meninjau langsung penanganan dugaan insiden keamanan pangan Program MBG di Distrik Depapre, Papua. Peninjauan dilakukan untuk memastikan penerima manfaat memperoleh pelayanan kesehatan optimal sekaligus memperkuat evaluasi penyelenggaraan program.
Kunjungan tersebut dilakukan bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk pada Kamis, 6 Agustus 2026. Keduanya juga berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua untuk mempercepat penanganan terhadap penerima manfaat yang terdampak.
Trenggono juga meninjau sejumlah fasilitas kesehatan seperti, Puskesmas Depapre, Aula Kantor Distrik Depapre, dan RSUD Yowari. Peninjauan dilakukan untuk memastikan seluruh pasien memperoleh pelayanan medis yang memadai serta dukungan moril.
Selain fasilitas kesehatan, Trenggono juga mengevaluasi Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kasih Iman Samuel Papua. Operasional dapur tersebut saat ini dihentikan sementara sambil menunggu hasil investigasi penyebab dugaan insiden keamanan pangan.
"Tadi saya langsung melakukan kunjungan ke SPPG yang menangani ini, memang banyak sekali kekurangan. Sementara kita suspend dulu, kita cek dan investigasi di mana letak kesalahannya, apakah pada SOP atau bahan bakunya," kata Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) tersebut dalam keterangan tertulis, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menurut Trenggono, evaluasi dilakukan tidak hanya untuk mengidentifikasi penyebab kejadian yang terjadi. Ia menambahkan, langkah tersebut juga bertujuan memperkuat sistem pengawasan agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
Berdasarkan data terrbaru, sebanyak 219 penerima manfaat telah memperoleh penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan. Sebanyak delapan pasien telah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatannya membaik setelah menjalani perawatan.
Sementara itu, tiga pasien dirujuk dari RSUD Yowari menuju RS Kementerian Kesehatan untuk penanganan lanjutan. BGN juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan, TNI, Polri, dan pemangku kepentingan lainnya.
"Hasil penelusuran awal mengarah pada dugaan adanya penurunan kualitas salah satu menu, yakni tempe bacem yang dimasak terlalu dini. Namun demikian, penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sehingga seluruh pihak diminta menunggu hasil investigasi resmi," katanya.
Trenggono menegaskan hasil investigasi akan menjadi dasar penyempurnaan sistem pengawasan mutu dan keamanan pangan. Menurutnya, evaluasi tersebut juga memperkuat penerapan standar operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kami memastikan seluruh pasien mendapatkan penanganan medis yang diperlukan. Evaluasi menyeluruh terus dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang dan pelaksanaan program semakin baik serta memberikan manfaat bagi penerima," ucap Trenggono.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....