Bulog Manokwari Serap 73 Ton Jagung Petani Binaan Polda Papua Barat
- 23 Jul 2026 20:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Perum Bulog Cabang Manokwari mencatat penyerapan jagung pipilan dari kelompok tani binaan Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat mencapai 73.000 kilogram atau 73 ton.
- Kepala Cabang Perum Bulog Manokwari Sheika Irawaty mengatakan jagung pipilan tersebut dibeli dari petani dengan harga Rp6.400 per kilogram untuk kadar air 14 persen.
RRI.CO.ID, Manokwari - Perum Bulog Cabang Manokwari mencatat penyerapan jagung pipilan dari kelompok tani binaan Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat mencapai 73.000 kilogram atau 73 ton. Jumlah tersebut tercatat hingga pertengahan 2026.
Kepala Cabang Perum Bulog Manokwari Sheika Irawaty mengatakan jagung pipilan tersebut dibeli dari petani dengan harga Rp6.400 per kilogram untuk kadar air 14 persen. Sementara jagung dengan kadar air di atas 14 persen dihargai Rp5.500 per kilogram.
“Kami hanya menerima jagung dengan kadar air 14 persen. Karena tidak punya peralatan pengering jagung,” kata Sheika di Manokwari, Kamis 23 Juli 2026.
Menurutnya, standar kadar air menjadi faktor penting dalam penyerapan jagung. Karena berkaitan langsung dengan daya simpan dan kualitas hasil panen sebelum didistribusikan kembali kepada masyarakat.
Keterbatasan alat pengering menjadi salah satu tantangan dalam memaksimalkan penyerapan hasil panen jagung di Papua Barat. Kondisi tersebut terutama dirasakan saat curah hujan tinggi yang membuat proses penjemuran secara alami menjadi lebih sulit.
Sheika menjelaskan harga jagung yang diserap Bulog mengacu pada ketentuan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Adapun harga jual jagung berada di kisaran Rp5.500 per kilogram.
“ Harga jual jagung yang diserap Bulog ditentukan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas). Harga jual berkisar Rp5.500 per kilogram,” ujarnya.
Ia mengatakan program ketahanan pangan dengan komoditas jagung yang dijalankan jajaran kepolisian di wilayah Papua Barat merupakan bagian dari upaya mendukung pemerintah dalam meningkatkan produksi pangan dalam negeri.
Peningkatan produksi pangan lokal diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Selain itu, penyerapan hasil panen petani lokal secara maksimal juga dinilai dapat mendorong perbaikan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat petani. “Komoditas pertanian lokal yang sudah kami serap hanya jagung, dan tentu itu harus sesuai standar yang ditentukan karena harga jual juga mengacu ke Bapanas,” katanya.
Sheika berharap sinergi antara Bulog, kepolisian, dan kelompok tani dapat terus dioptimalkan sehingga penyerapan jagung di Papua Barat meningkat. Baik dari sisi jumlah maupun kualitas.
Bulog, lanjutnya, terus memantau perkembangan produksi jagung dari kelompok tani binaan kepolisian di wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan stok pangan dan memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
“Jagung yang kami serap itu ada juga yang dari kelompok tani binaan kepolisian di Kabupaten Manokwari Selatan,” kata Sheika.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....