Cakupan Imunisasi di Banda Aceh Masih Rendah, Pemkot Perkuat Strategi ‘Jemput Bola’

  • 22 Mei 2026 22:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyebut capaian imunisasi dasar lengkap tahun 2025 baru mencapai 34 persen
  • Pemerintah Kota Banda Aceh memperkuat strategi jemput bola dan pendataan by name by address hingga tingkat gampong
  • Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menyebut Aceh akan dijadikan percontohan kebangkitan imunisasi nasional

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyebut capaian imunisasi dasar lengkap tahun 2025 masih menjadi tantangan besar. Ia mengatakan cakupan imunisasi dasar lengkap di Kota Banda Aceh baru mencapai angka 34 persen tahun ini.

“Pada tahun 2025, capaian imunisasi dasar lengkap baru berada di angka 34%. Artinya, masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan perlindungan dasar terhadap penyakit yang berbahaya,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam kegiatan Kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing ‘Mengejar Anak Zero Dose’ di Banda Aceh, Jumat, 22 Mei 2026.

Menurut Illiza, data pemerintah menunjukkan sebanyak 63 persen anak masih berstatus zero dose dan belum menerima vaksin dasar lengkap. Ia menegaskan kondisi tersebut tidak bisa dianggap biasa karena berisiko meningkatkan penyebaran penyakit menular di masyarakat.

Illiza mengatakan kasus campak di Banda Aceh telah mencapai 119 kasus dan disertai munculnya pertusis atau batuk rejan. Selain itu, angka tuberkulosis di Banda Aceh juga tercatat mencapai lebih dari 1.600 kasus sepanjang periode terakhir.

Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat layanan primer melalui Puskesmas dan Posyandu agar masyarakat lebih mudah mengakses imunisasi. Selain itu, pemerintah juga melakukan pemetaan sasaran hingga tingkat gampong menggunakan pendataan ‘by name by address’.

“Kami juga melakukan pemetaan sasaran sampai ke tingkat gampong. Jadi kita ingin memastikan data anak-anak yang belum imunisasi benar-benar akurat ‘by name, by address’ supaya tidak ada yang terlewatkan,” ucapnya.

Illiza menambahkan pemerintah turut menjalankan pendekatan ‘door-to-door’ melalui kader Posyandu dan petugas kesehatan yang mendatangi rumah warga. Menurutnya, sebagian keluarga belum memperoleh informasi utuh mengenai manfaat imunisasi sehingga membutuhkan pendekatan lebih persuasif.

“Pendekatan ‘door-to-door’ ini penting. Karena kadang ada keluarga yang bukan menolak, tetapi belum mendapatkan informasi yang utuh,” kata Illiza.

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menyebut Aceh menjadi awal kebangkitan imunisasi nasional dari wilayah barat Indonesia. Ia mengatakan Aceh akan dijadikan percontohan peningkatan cakupan imunisasi melalui evaluasi pemerintah pada masa mendatang.

“Aceh akan kita jadikan percontohan bagaimana angka imunisasi yang rendah pada saat ini. Nanti pada evaluasi kita berikutnya bisa menjadi percontohan bagi tempat-tempat lain,” ujarnya usai kegiatan Kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing ‘Mengejar Anak Zero Dose’ di Banda Aceh, Jumat, 22 Mei 2026.

Dante mengatakan rendahnya angka imunisasi di Aceh diharapkan berubah menjadi contoh keberhasilan bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Menurutnya, kebangkitan imunisasi nasional dimulai dari bumi Aceh sebagai wilayah paling barat Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....