Pemulihan Sawah Terdampak Bencana di Aceh Capai 40.852 Hektare

  • 22 Jul 2026 22:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah Aceh terus mempercepat pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi.
  • Hingga kini, progres rehabilitasi dan rekonstruksi sawah yang dikoordinasikan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh telah mencapai sekitar 40.852 hektare.
  • Berdasarkan data Distanbun Aceh, bencana hidrometeorologi sebelumnya merusak 57.485 hektare sawah.

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Pemerintah Aceh terus mempercepat pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi. Hingga kini, progres rehabilitasi dan rekonstruksi sawah yang dikoordinasikan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh telah mencapai sekitar 40.852 hektare.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan upaya pemulihan lahan pertanian tersebut menunjukkan perkembangan positif.

“Distanbun Aceh telah bekerja maksimal dan membawa hasil yang positif,” kata Nurlis di Banda Aceh, Rabu 22 Juli 2026.

Berdasarkan data Distanbun Aceh, bencana hidrometeorologi sebelumnya merusak 57.485 hektare sawah. Kerusakan tersebut terdiri atas 27.437 hektare rusak ringan, 13.651 hektare rusak sedang, 16.276 hektare rusak berat, serta 120 hektare sawah hilang.

Dari total lahan terdampak tersebut, sekitar 40.852 hektare telah menjalani proses optimalisasi lahan dan rehabilitasi. Termasuk yang masih dalam tahap pengerjaan.

Dengan demikian, masih terdapat sekitar 16.633 hektare lahan yang belum tertangani, terutama sawah dengan kategori rusak berat dan sawah yang hilang. Meski demikian, proses pemulihan mulai menunjukkan hasil.

Pemerintah Aceh telah memulai gerakan tanam padi di sejumlah lahan terdampak yang telah dipulihkan. Di antaranya, di Desa Bukit, Kabupaten Aceh Tamiang, serta kawasan Kutablang, Bireuen, Aceh Utara, dan sejumlah wilayah lainnya.

Menurut Nurlis, kinerja Distanbun Aceh juga berdampak pada peningkatan dukungan anggaran dari Kementerian Pertanian (Kementan). Pada tahap pertama, bantuan Kementan mencapai Rp380 miliar.

Angka tersebut meningkat menjadi Rp515 miliar pada tahap kedua. “Rehabilitasi sawah ini dilaksanakan Kementan bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang terdampak bencana di Aceh,” ujarnya.

Nurlis merinci, program optimalisasi lahan pascabencana untuk sawah rusak ringan mendapat alokasi Rp155,6 miliar dalam bentuk bantuan pemerintah. Program tersebut mencakup 16 kabupaten/kota dengan total luas lahan 27.071 hektare.

Sementara itu, untuk lahan rusak sedang, Pemerintah Aceh melaksanakan program rehabilitasi dengan total anggaran Rp186 miliar. Program ini mencakup 11 kabupaten dengan luas lahan 13.781 hektare.

“Progres konstruksi terus dilaksanakan oleh kelompok tani bersama TNI dan telah mencapai sekitar 4.393 hektare atau 32 persen dari total target,” kata Nurlis. Di sektor irigasi, Pemerintah Aceh juga membangun berbagai infrastruktur pendukung.

Untuk irigasi perpompaan, direncanakan pembangunan 641 unit di 16 kabupaten/kota dengan anggaran Rp98 miliar. Hingga kini, sebanyak 456 unit telah terbangun dengan realisasi keuangan sekitar 53,2 persen.

“Sebagian sisanya masih dalam tahap pengerjaan, sementara sebagian kecil lokasi masih dalam proses administrasi dan perencanaan,” katanya. Adapun pembangunan irigasi perpipaan di 13 kabupaten/kota sebanyak 149 unit dengan anggaran Rp14 miliar telah mencapai progres sekitar 50 persen.

Kemudian, pembangunan 45 unit bangunan konservasi senilai Rp5,4 miliar mencatat realisasi keuangan sekitar 36 persen. Untuk jaringan irigasi tersier, dari total 300 unit yang direncanakan dengan anggaran Rp30 miliar, progres pembangunan telah mencapai sekitar 78 persen dan sebanyak 235 unit di antaranya telah terbangun.

Selain itu, pembangunan 106 unit jalan usaha tani (JUT) dengan anggaran Rp11,6 miliar telah mencatat realisasi keuangan sekitar 31 persen.

“Secara total, seluruh kegiatan tersebut sudah mencapai realisasi keuangan sebesar 48,48 persen hingga 21 Juli 2026,” ujar Nurlis.

Ia menambahkan, Gubernur Aceh Muzakir Manaf berharap percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya memulihkan kondisi lahan pertanian. Tetapi juga meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di seluruh wilayah terdampak bencana.

Karena itu, Distanbun Aceh diinstruksikan untuk terus bekerja keras mempercepat pemulihan lahan pertanian. Serta memperkuat komunikasi dengan berbagai pihak.

“Baik itu dengan Kementan, Satgas PRR Kemendagri, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, TNI, Polri, serta berbagai pihak terkait. Guna memastikan seluruh program berjalan sesuai target,” kata Nurlis Effendi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....