BSP III di Bali, Gerakan Kolaborasi Nyata untuk Lingkungan
- 29 Apr 2026 07:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Badung - Bali Sustainability Project (BSP) III: Co-Creation Eco Festival kembali digelar sebagai ruang kolaborasi lintas sektor untuk mendorong aksi nyata keberlanjutan lingkungan. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, 24–26 April 2026, di Discovery Mall Kuta – Sunset Gallery, Badung, Bali.
Mengusung tema “Dari Kuta untuk Bumi”, festival yang diinisiasi komunitas Kawan Alam ini hadir bertepatan dengan tiga momentum penting, yaitu Hari Kartini, Hari Bumi, dan Hari Angkutan Nasional 2026. BSP III menjadi wadah pertemuan komunitas, akademisi, pemerintah, industri, hingga praktisi dalam memperkuat gerakan bersama menuju masa depan berkelanjutan.
Pada hari pertama, kegiatan dibuka melalui seremoni resmi yang dihadiri sejumlah pemangku kepentingan. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta, memberikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut yang dinilai relevan dalam mendorong kesadaran transportasi berkelanjutan di Bali.
Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana, menegaskan dukungan terhadap peran generasi muda dalam menjaga lingkungan. “Desa Adat Kuta akan selalu mendukung anak-anak muda yang peduli terhadap bumi, terkhusus Bali,” ujarnya.
Rangkaian hari pertama diisi berbagai kegiatan publik seperti talkshow bertema perempuan dan energi. Ada pula fashion show berbahan daur ulang, hingga diskusi tentang transportasi ramah lingkungan.
Senator DPD RI asal Bali, Ni Luh Djelantik, turut mendorong dukungan lebih luas terhadap gerakan keberlanjutan. “Inisiatif seperti ini harus didukung penuh karena menjadi gerakan nyata dari masyarakat,” katanya.
Memasuki hari kedua, fokus kegiatan beralih pada penguatan akademik melalui Seminar Nasional bertema “Techno-Researchpreneurship for Sustainable Tourism” yang digelar bersama Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas). Wakil Rektor III Undiknas, Dr. A.A. Gde Agung Tini Gorda, menyebut seminar ini menjadi wadah strategis untuk menghubungkan dunia akademik dengan praktik lapangan dalam menciptakan inovasi berkelanjutan.
Seminar tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk sustainability storyteller Vania F. Herlambang. Selain itu, peserta juga mendapatkan pemaparan terkait teknologi pengelolaan sampah berbasis digital, diskusi lintas komunitas, serta inovasi di sektor hijau.
Pada hari ketiga, BSP III menitikberatkan pada aksi nyata melalui berbagai kegiatan seperti diskusi publik tentang demokrasi hijau, kuliah umum ketahanan pangan dan perubahan iklim, talkshow blue carbon, hingga aksi bersih pantai. Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi sebagai penegasan komitmen bersama terhadap lingkungan.
Project Director BSP, Rafli Zhulkifli, menegaskan festival ini mengusung konsep zero waste event. Ia menjelaskan, sampah organik diolah menggunakan mesin khusus, sementara sampah anorganik didaur ulang bersama mitra.
“Seluruh sampah tidak akan berakhir di TPS atau TPA. Kami menggunakan sistem monitoring digital secara real-time,” ujarnya.
Founder Kawan Alam, Henny Paula Sitohang, menambahkan BSP III bukan sekadar festival. Lebih dari itu sebagai ruang kolaborasi lintas sektor sekaligus ajang apresiasi, khususnya bagi perempuan yang berperan dalam konservasi lingkungan.
Selama tiga hari pelaksanaan, berbagai program turut dihadirkan. Contoh program itu antara lain eco expo, green mobility exhibition, edukasi energi terbarukan, kampanye zero waste, instalasi seni daur ulang, hingga pameran inovasi mahasiswa dan startup.
Melalui kegiatan ini, masyarakat khususnya generasi muda diajak untuk belajar, berjejaring, berkolaborasi, dan mengambil langkah nyata dalam menjaga lingkungan. BSP III diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dalam mendorong gerakan keberlanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....