Kebakaran Berau dan 42 Kasus di Sleman, Waspada Kelalaian Warga
- 26 Apr 2026 19:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kebakaran Berau dan 42 Kasus di Sleman, Waspada Kelalaian Warga
- Waspada Kebakaran karena Kelalaian Warga
RRI.CO.ID, Samarinda — Kebakaran permukiman kembali terjadi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, pada Sabtu 25 April pagi. Peristiwa ini menghanguskan enam rumah dan satu bengkel di kawasan Jalan M Iswahyudi RT 3, Kelurahan Rinding, Kecamatan Rinding.
Dikutip dari RRI Samarinda, Kebakaran tersebut dilaporkan warga sekitar pukul 09.16 Wita dan petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi sekitar 11 menit kemudian. Api diduga berasal dari sebuah warung bakso sebelum cepat merambat ke bangunan di sekitarnya yang mayoritas berbahan kayu.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun empat kepala keluarga dengan total 15 jiwa terdampak. Kerugian material diperkirakan mencapai Rp750 juta, termasuk empat unit sepeda motor yang ikut terbakar.
Peristiwa ini kembali menyoroti faktor kelalaian dan potensi risiko kebakaran di lingkungan permukiman padat. Kondisi serupa juga menjadi perhatian di wilayah lain, termasuk Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Data Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Sleman mencatat sebanyak 42 kasus kebakaran terjadi sepanjang tahun 2026. Kapanewon Depok menjadi wilayah dengan kasus tertinggi sebanyak delapan kejadian, disusul Mlati dan Sleman masing-masing lima kasus.
Komandan Regu 1 Damkar Sleman, Bayu Ibrahim, menyebut sebagian besar kebakaran dipicu oleh kelalaian manusia. Salah satunya adalah penggunaan tungku atau kompor yang ditinggalkan dalam kondisi menyala.
“Kalau di akhir-akhir ini ada kelalaian seperti tungku kompor yang ditinggal keluar. Ini sangat berbahaya,” kata Bayu, Minggu 26 April 2026.
Selain faktor kelalaian, objek yang paling sering terbakar adalah rumah tinggal dan instalasi listrik. Kondisi ini menunjukkan bahwa sumber risiko kebakaran banyak berasal dari aktivitas sehari-hari di rumah tangga.
Damkar Sleman mengklaim terus berupaya meningkatkan kecepatan respons dengan target waktu penanganan maksimal 15 menit. Namun, keterbatasan jumlah pos dan jarak tempuh ke lokasi kebakaran masih menjadi tantangan di lapangan.
“Memang jadi kendala karena kita baru mempunyai satu pos,” ujar Bayu, dikutip dari RRI Yogyakarta. Saat ini, dua pos tambahan telah disiapkan namun masih terkendala ketersediaan sumber daya manusia.
Kabid Damkar Satpol PP Sleman, Gunardi, menyebut pihaknya aktif melakukan sosialisasi bersama pemerintah kapanewon dan kelurahan. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko kebakaran.
Damkar Sleman juga menggandeng BPBD untuk mengantisipasi potensi kebakaran saat musim kemarau. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan karena berpotensi memicu api merambat ke permukiman.
“Kalau kepepet membakar sampah ya harus ditunggu sampai betul-betul mati,” kata Gunardi. Ia menegaskan bahwa banyak kasus kebakaran berawal dari api kecil yang tidak diawasi hingga akhirnya membesar.
Rangkaian kejadian di Berau dan data di Sleman menunjukkan bahwa faktor kelalaian masih menjadi penyebab dominan kebakaran. Penguatan edukasi keselamatan dan kewaspadaan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menekan risiko kebakaran di permukiman padat penduduk.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....