Banjir akibat Tanggul Jebol di Demak, Ribuan Warga Dievakuasi

  • 04 Apr 2026 15:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Banjir di Demak merendam sembilan desa di empat kecamatan dan memaksa 2.839 warga mengungsi
  • Penyebab banjir adalah hujan intensitas tinggi yang memicu luapan Sungai Tuntang dan jebolnya tanggul
  • BNPB dan BPBD melakukan percepatan penanganan darurat serta pemantauan di lokasi terdampak

RRI.CO.ID, Jakarta — Banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, dan menyebabkan ribuan warga mengungsi pada Sabtu, 4 April 2026. Peristiwa ini terjadi akibat tingginya intensitas hujan yang menyebabkan sungai meluap serta tanggul jebol pada Jumat, 3 April 2026.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak Agus Sukiyono menyebut banjir berdampak pada ribuan kepala keluarga. “Terdampak kurang lebih 2.116 kepala keluarga dan pengungsi mencapai 2.839 jiwa,” ujarnya di Demak, Sabtu 4 April 2026.

Banjir dilaporkan merendam sembilan desa yang tersebar di empat kecamatan, yakni Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Wilayah terdampak meliputi Desa Trimulyo, Sidoharjo, Turitempel, Tlogorejo, Bumiharjo, Ploso, Lempuyang, Sarimulyo, dan Solowire.

Di Kecamatan Guntur, banjir menjadi yang paling parah dengan beberapa titik tanggul Sungai Tuntang dilaporkan jebol. Dua titik tanggul rusak berada di Desa Trimulyo, sementara satu titik lainnya berada di Desa Sidoharjo.

Ketinggian air di wilayah terdampak bervariasi antara 20 sentimeter hingga 1,4 meter. Di Desa Trimulyo, genangan air dilaporkan mencapai lebih dari satu meter sehingga merendam permukiman dan mengganggu akses jalan.

Para pengungsi tersebar di berbagai lokasi seperti masjid, balai desa, madrasah, hingga kantor kecamatan. Beberapa titik pengungsian di antaranya berada di Masjid Babu Rohim, Masjid Rodhotul Janah, serta Kantor Kecamatan Guntur.

Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB menyebut banjir dipicu oleh tingginya curah hujan serta meluapnya Sungai Tuntang. Abdul Muhari mengatakan kondisi tersebut menyebabkan tanggul tidak mampu menahan debit air yang meningkat.

Ia menambahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah menginstruksikan percepatan penanganan darurat di lokasi terdampak. Koordinasi juga dilakukan dengan BPBD Jawa Tengah untuk mengidentifikasi kebutuhan penanganan.

Petugas gabungan saat ini masih melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan warga serta mempercepat pemulihan pascabencana.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....