Dukcapil DKI: Pendataan Jemput Bola Pendatang Baru sampai Akhir April

  • 03 Apr 2026 22:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dukcapil DKI Jakarta masih melakukan pendataan pendatang baru melalui layanan jemput bola hingga 30 April 2026.
  • Per 1 April 2026, tercatat 1.776 pendatang baru masuk ke Jakarta, terdiri dari 891 laki-laki (50,17 persen) dan 885 perempuan (49,83 persen).

RRI.CO.ID, Jakarta - Dukcapil DKI Jakarta masih melakukan pendataan pendatang baru melalui layanan jemput bola hingga 30 April 2026. Per 1 April 2026, tercatat 1.776 pendatang baru masuk ke Jakarta, terdiri dari 891 laki-laki (50,17 persen) dan 885 perempuan (49,83 persen).

Menariknya, jumlah pendatang pascalibur Lebaran menunjukkan tren menurun sejak 2022. Tercatat 27.478 orang pada 2022, turun menjadi 25.918 orang pada 2023, lalu 16.207 orang pada 2024, dan 16.049 orang pada 2025.

Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto menilai, dalam dua tahun terakhir, pendatang ke Jakarta datang dengan persiapan lebih matang. Seperti memiliki keterampilan kerja, kepastian pekerjaan, serta jaminan tempat tinggal sebelum tiba di ibu kota.

“Mereka lebih kepada keterampilannya yang sektor informal,” kata Denny dalam keterangannya, Jumat, 3 April 2026. Dukcapil DKI juga mencatat mayoritas pendatang baru yang masuk ke Jakarta memiliki latar belakang pendidikan menengah ke bawah.

Berdasarkan data Dukcapil DKI, sebanyak 78,71 persen pendatang baru memiliki tingkat pendidikan maksimal SMA atau sederajat. Sementara sekitar 34,97 persen pendatang baru ke Jakarta bertujuan mencari pekerjaan.

"Faktor-faktor untuk mencari pekerjaan itu dikuatkan dengan jumlah usia produktif yang paling tinggi,” katanya. Data Dukcapil menunjukkan alasan mencari kerja menempati posisi tertinggi dibandingkan alasan lain.

Berikutnya, adalah alasan keluarga (32,58 persen), pekerjaan (15,59 persen), perumahan (13,04 persen). Serta, pendidikan (3,49 persen), kesehatan (0,29 persen), dan keamanan (0,03 persen).

Dari sisi demografi, sebanyak 77,84 persen pendatang berada pada rentang usia produktif 15–64 tahun. Rasio jenis kelamin pun relatif seimbang, yakni setiap 100 perempuan terdapat 97 laki-laki.

Selain itu, kemudahan akses layanan publik menjadi faktor kuat yang membuat Jakarta tetap menjadi magnet bagi pendatang.

Layanan transportasi, kesehatan, pendidikan, hingga administrasi kependudukan dinilai mudah diakses. “Layanan publik kependudukan, layanan kesehatan, pendidikan yang cukup mudah diproses mungkin menjadi faktor utama mengapa Jakarta masih menarik,” ujarnya.

Namun, sekitar 21,05 persen pendatang diketahui tinggal di kawasan RW kumuh dan padat, termasuk wilayah perbatasan Jakarta. Data ini akan dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan program pembinaan UMKM serta upaya formalisasi sektor informal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....