Pemerhati: Urbanisasi Jakarta Dipicu Ketimpangan Desa dan Minim Lapangan Kerja
- 25 Mar 2026 07:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Peristiwa tersebut dipicu ketimpangan pembangunan antara desa dan kota yang belum terselesaikan hingga kini secara menyeluruh.
- Peningkatan jumlah angkatan kerja di desa tidak diimbangi ketersediaan lapangan kerja memadai dalam skala besar.
- Pemerintah daerah dan pusat perlu bertanggung jawab memperkuat pembangunan desa karena ketidakseimbangan peluang kerja semakin melebar.
RRI.CO.ID, Jakarta – Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menyoroti fenomena urbanisasi pascalebaran 2026 yang kembali meningkat signifikan di Jakarta. Menurut dia, hal ini dipicu ketimpangan pembangunan antara desa dan kota yang belum terselesaikan secara menyeluruh hingga kini.
“Sejak dahulu disparitas wilayah membuat kota menjadi primadona sementara desa termarginalkan,” ujarnya pada perbincangan dengan RRI Pro 3, Selasa 24 Maret 2026. Pada gilirannya hal ini mendorong masyarakat desa pindah ke kota untuk mencari penghidupan lebih layak.
Yayat menekankan peningkatan jumlah angkatan kerja di desa tidak diimbangi ketersediaan lapangan kerja memadai dalam skala besar. Sehingga urbanisasi terus terjadi karena desa belum mampu menyediakan peluang ekonomi yang sebanding dengan kebutuhan lulusan pendidikan menengah.
“Mereka memilih ke kota karena berharap mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan lebih baik,” ujarnya. Meskipun, lanjut dia, realitasnya tidak selalu sesuai harapan.
Yayat mengatakan perkembangan ekonomi di kota cenderung mengarah pada sektor informal yang kurang menjanjikan stabilitas pekerjaan. Karena itu, pemerintah daerah dan pusat perlu bertanggung jawab memperkuat pembangunan desa karena ketidakseimbangan peluang kerja semakin melebar.
“Tanpa penguatan agroindustri dan agrowisata, desa akan terus kehilangan tenaga kerja produktif,” ujarnya. Ini karena mereka akan lebih memilih mencari peluang di kota besar.
Yayat menambahkan kemudahan administrasi kependudukan di Jakarta turut mempercepat arus pendatang baru setiap tahunnya. Menurut dia, kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya beban sosial ekonomi termasuk kemiskinan perkotaan serta tekanan terhadap fasilitas publik.
Yayat turut menggarisbawahi perlunya kolaborasi antardaerah dalam menciptakan pusat ekonomi baru agar urbanisasi tidak terus berulang setiap tahun. “Urbanisasi tanpa diimbangi pemerataan pembangunan dapat memicu berbagai persoalan sosial seperti kemiskinan urban hingga ketimpangan akses terhadap layanan dasar,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....