Penyintas Bencana di Agam Tetap ProduktifJaga Geliat Ekonomi di Huntara

  • 19 Mar 2026 07:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Banjir Agam Sumatra Barat
  • Korban Banjir Agam
  • Korban Banjir Agam Sumatra Barat Dapat Bantuan
  • Penyintas Banjir Agam

RRI.CO.ID, Agam - Penyintas bencana hidrometeorologi di Agam, Sumatra Barat, terus berupaya menjaga roda ekonomi tetap berputar. Meski pun mereka tinggal di hunian sementara (huntara) Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan.

Di tengah berbagai keterbatasan, para penyintas tetap menjalankan usaha yang sebelumnya telah mereka tekuni. Sejumlah warga terlihat tetap produktif, mulai dari menerima pesanan katering sederhana hingga melanjutkan pekerjaan menjahit di dalam huntara.

Salah seorang penyintas, Fina (29), mengaku masih aktif menerima pesanan makanan. Baik untuk kegiatan buka bersama di lingkungan huntara maupun dari warga sekitar.

“Untuk buka bersama di huntara, sudah dua kali, tapi kalau untuk warga di luar, sudah banyak dapat orderan. Dari karyawan MBG untuk buka bersama ada, terus dari warga-warga setempat, pesan manual yang jemput ke sini ada juga,” ujarnya, Rabu, 18 Maret 2026.

Fina mematok harga Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per porsi. Pada hari ini, ia menerima pesanan hingga 350 paket pecel ayam.

Namun, karena keterbatasan ruang dan tenaga, ia hanya mampu memenuhi sekitar 200 paket. Ia menambahkan, ketersediaan bahan baku tidak menjadi kendala karena aktivitas pasar setempat sudah kembali berjalan normal.

Meski begitu, untuk kebutuhan kemasan, ia harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit ke Lubuk Basung. Selain usaha katering, aktivitas menjahit juga mulai bangkit.

Salah satu penyintas lainnya, Jurspartima, kembali menjalankan usaha jahit setelah mesin jahitnya yang sempat rusak akibat lumpur berhasil diperbaiki. Ia mengaku mulai bekerja kembali sekitar dua pekan lalu dan kini tengah menyelesaikan pesanan seragam sekolah menjelang Lebaran.

“Dapat pesanan 10 kodi baju pramuka. Ongkos menjahit Rp90 ribu per kodi, bahan dan pemotongan dari bos, saya tinggal menyatukan saja,” katanya.

Meski bekerja di ruang terbatas, Jurspartima berusaha mengejar target agar pesanan dapat selesai tepat waktu. Ia bahkan menolak pesanan lain seperti baju gamis karena keterbatasan waktu pengerjaan.

“Gamis tidak diambil lagi karena waktunya tidak terkejar, gamis itu harus selesai tiga hari. Kalau baju pramuka bisa 10 hari,” katanya.

Saat ini, sebanyak 117 kepala keluarga masih menghuni huntara Kayu Pasak. Meski sebagian warga sesekali kembali ke rumah yang masih bisa ditempati.

Aktivitas di huntara tetap berlangsung ramai, baik siang maupun malam hari. Kondisi ini menunjukkan semangat para penyintas untuk bangkit dan mempertahankan kemandirian ekonomi di tengah situasi pascabencana.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....