BRIN Sebut Tanah Bergerak di Tegal Masih Berlanjut
- 05 Feb 2026 15:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena tanah bergerak di wilayah Tegal diperkirakan masih akan terus terjadi dalam waktu dekat. Kondisi ini dipengaruhi faktor hujan dan karakter geologi di lokasi tersebut.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, mengatakan pergerakan tanah diperkirakan masih aktif hingga sekitar satu minggu. Setelah itu, tanah akan mencapai kondisi setimbang dan berhenti sementara.
“Kalau pergerakan tanah ini saya pikir dalam satu minggu kedepan masih akan terus bergerak sampai kemudian dia akan mengalami kondisi setimbang lagi, baru kemudian berhenti. Tapi untuk daerah seperti ini tentunya di masa mendatang akan terus mengalami pergerakan tanah yang tidak seperti ini,” ujar Adrin dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Kamis 5 Januari 2026.
| Baca juga: KAI Catat Pengguna KRL Turun Dampak WFH ASN |
Menurut Adrin, daerah yang sudah teridentifikasi sebagai zona gerakan tanah aktif tidak layak untuk permukiman. Risiko korban jiwa akan terus mengancam jika kawasan tersebut tetap dihuni.
“Makanya ini suatu daerah yang memang harus dikosongkan dari pemukiman, masyarakat harus direlokasi. Mungkin peruntukannya itu hanya untuk lahan perkebunan ataupun lahan persawahan itu menurut saya tidak masalah, apalagi tidak ada pemukiman di sana,” katanya
Adrin menjelaskan, pergerakan tanah di Tegal termasuk tipe nendatan yang terjadi di wilayah dengan kemiringan relatif landai. Kondisi ini berbeda dengan longsor tipe luncuran yang berisiko tinggi dan bisa menimbulkan korban jiwa besar.
“Untuk tanah bergerak yang seperti di Tegal, cenderung dia berada di lereng-lereng yang tidak curam ya, lebih ke arah landai. Di peta gerakan tanah pun, itu cenderung dia berada di zona yang warnanya kuning, jadi gerakan tanah menengah ataupun juga rendah,” ucapnya.
Dia menyebut, gerakan tanah di wilayah tersebut dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Air hujan meresap ke lapisan batu lempung yang mudah melemah saat menerima iar hujan yang masuk ke tanah.
Adrin menambahkan, pemerintah sebenarnya telah memiliki peta kerentanan gerakan tanah. Namun, peta tersebut perlu diperinci dan disosialisasikan agar masyarakat memahami jenis dan tingkat risikonya.
“Apakah gerakan tanah yang tipe yang nendatan, yang seperti terjadi di Tegal, atau yang sifatnya luncuran, seperti yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat, Pasirlangu. Nah, itu perbedaan jenis gerakan tanah itu tentunya akan memberikan perbedaan juga terhadap risikonya,” kata Adrin.
Menurut dia, vegetasi dan pohon berakar kuat dapat membantu mengurangi risiko longsor. Namun, pada kondisi hujan ekstrem, kemampuan alam menahan air tetap memiliki batas.
Karena itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dinilai sangat penting. “Ketika curah hujan sangat tinggi, longsor tetap bisa terjadi meski tutupan lahan cukup baik,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....