Anak-Anak Pengungsi Batu Nagodang Siatas Rindu Kampung Halaman

  • 16 Des 2025 10:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Humbang Hasundutan: Para pengungsi Desa Batu Nagodang Siatas, di Humbang Hasundutan, Sumatra Utara (Sumut), mengaku sangat rindu rumah masing-masing. Kerinduan akan kampung halamannya itu, bahkan diungkapkan oleh anak-anak yang tinggal di pengungsian tersebut.

Salah satuny, diungkapkan oleh Ghifran, bocah 12 tahun. Ghifran mengaku, kangen bermain dengan anak sebayanya. Bahkan, siswa SDN Negeri 102 Batu Nagodang Siatas ini mengaku, pernah ditegur guru karena bermain petasan.

Desa Batu Nagodang Siatas, Kecamatan Onan Ganjang, merupakan desa terdampak banjir bandang dan longsor. Ghifran bersama orang tuanya dan warga Dusun Siatas mengungsi di Gereja HKBP Parbotihan, karena takut terjadi longsor susulan.

Dibalik keceriaan diwajahnya seperti anak-anak lain, Ghifran menyampaikan keinginannya agar keadaan kembali normal. Pulang ke rumah dan sekolah dengan fasilitas lengkap.

"Saya tidak senang karena tidak pakai seragam, tidak ada meja. Saya ingin agar bisa pakai baju seragam lagi dan pulang,"kata Ghifran saat ditanya kesan belajar di lokasi pengungsian, Senin (15/12/2025).

Mereka sudah tiga minggu di lokasi pengungsian. Berbagai aktivitas termasuk kegiatan belajar dilakukan di aula sekitar gereja.

Ada 38 anak yang belajar di lokasi pengungsian dengan berbagai tingkatan. Adapun untuk guru ada lima orang, masing-masing guru mengajar 12 orang murid.

Guru SDN 120 Batunagodang Siatas, Rotoa Simbolon mengatakan para muridnya kerap menyampaikan keinginan untuk belajar di kelas. Namun sekolah mereka rawan ambruk akibat longsor sehingga tidak aman untuk kegiatan belajar.

"Sekolah disana keadaanya retak dan kondisi jalan susah. Siswa sering bilang 'tidak enak disini, pulanhlah kita belajar disana,"kata Rotoa.

Rotoa Simbolon menilai kegiatan belajar di pengungsian tidak efektif. Siswa belajar tanpa fasilitas yang memadai, duduk di lantai dengan beralaskan tikar.

"Proses pembelajaran kurang efektif. Semoga keadaan cepat pulih, membaik, sedih lah melihat kondisi ini,"kata Rotoa.

Para guru tidak memberikan materi pelajaran, melainkan pemulihan psikologi. Kegiatan belajar para siswa hanya menggambar, menyanyi dan kegiatan menyenangkan lainnya.

"Kalau untuk proses belajarnya, sebetulnya bukan belajar ya pak. Kita coba untuk memancing anak-anak agar tidak selalu memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan kejadian sebelumnya,"ujarnya.

Ghifran dan anak-anak lainnya di pengungsian tetap riang bermain. Seolah mereka tidak mengalami bencana yang telah menjauhkan dari kampung halaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....