Makna THR Lebaran Bergeser Jadi Tradisi Berbagi Sosial
- 24 Mar 2026 06:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Fenomena bagi-bagi THR kepada anak merupakan pergeseran dari kewajiban formal menuju praktik budaya berbagi yang semakin meluas.
- Istilah THR pada anak-anak kurang tepat karena tidak sesuai dengan konsep tunjangan formal.
- Fenomena tersebut berkembang karena pengaruh sosial dan kebiasaan masyarakat yang terus berubah mengikuti arus informasi digital.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Ida Ruwaida, memaparkan perkembangan makna Tunjangan Hari Raya (THR) dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Menurut dia, fenomena tersebut merupakan pergeseran dari kewajiban formal menuju praktik budaya berbagi yang semakin meluas.
Ida menambahkan istilah THR seharusnya merujuk pada kewajiban perusahaan kepada pekerja dalam hubungan kerja formal. “THR itu sebenarnya kewajiban perusahaan kepada karyawan, sementara untuk anak-anak lebih tepat disebut uang Lebaran,” tuturnya pada perbincangan dengan RRI Pro 3, Senin 23 Maret 2026.
Ida menegaskan penggunaan istilah THR pada anak-anak kurang tepat karena tidak sesuai dengan konsep tunjangan formal. Menurut dia, fenomena tersebut berkembang karena pengaruh sosial dan kebiasaan masyarakat yang terus berubah mengikuti arus informasi digital.
Ida menambahkan tradisi pemberian amplop Lebaran tidak merata di semua daerah dan dipengaruhi perkembangan media. Menurut dia, media sosial turut mendorong munculnya kebiasaan baru dalam masyarakat yang sebelumnya tidak mengenalnya.
“Media menjadi penggerak perubahan sosial sehingga tradisi baru bisa muncul dan diadopsi oleh masyarakat luas,” ucapnya.
Ida juga menyampaikan pemberian uang Lebaran memiliki makna berbagi rezeki yang berkaitan dengan nilai filosofis perayaan Lebaran. Praktik tersebut seharusnya tidak menjadi beban, melainkan sarana mempererat kebersamaan sesuai kemampuan masing-masing individu.
Idaa turut menyoroti pentingnya edukasi kepada anak-anak agar memahami nilai berbagi, bukan sekadar nominal pemberian saat Lebaran. Menurut dia, tradisi yang tidak disertai pemahaman nilai berisiko berubah menjadi tekanan sosial dalam kehidupan masyarakat.
Bagi sebagian orang, THR identik dengan “bonus” tahunan, atau uang tambahan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan Lebaran atau sekadar memanjakan diri. Akan tetapi, bagi sebagian kalangan tertentu, THR justru datang bersama daftar pengeluaran yang tak kalah panjang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa makna THR tidak lagi tunggal. Di satu sisi THR menjadi simbol berbagi dan kebersamaan, tetapi di sisi lain isa berubah menjadi tekanan sosial yang halus tetapi terasa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....