Kenapa THR Identik dengan Uang Baru? Simak Penjelasannya

  • 22 Mar 2026 11:41 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Setiap menjelang Lebaran, masyarakat seringkali berbondong-bondong menukar uang lama dengan pecahan baru.
  • Uang baru dinilai lebih sopan, menarik, dan menyenangkan saat diberikan kepada penerima.
  • Meski saat ini mulai berkembang tren THR digital, penggunaan uang baru masih jadi pilihan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Tradisi memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) saat Idulfitri di Indonesia hampir selalu identik dengan penggunaan uang baru. Setiap menjelang Lebaran, masyarakat berbondong-bondong menukar uang lama dengan pecahan baru, terutama untuk dibagikan kepada anak-anak dan keluarga.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, tapi sudah menjadi tradisi yang berlangsung turun-temurun. Bahkan jumlah penukaran uang baru dikabarkan selalu meningkat menjelang Idulfitri.

Melansir dari berbagai sumber, salah satu alasan utama penggunaan uang baru sebenarnya karena faktor simbolis. Uang baru dianggap merepresentasikan sesuatu yang bersih, segar, dan “awal yang baru”, sejalan dengan makna Idulfitri.

Tradisi ini akhirnya terus melekat karena dinilai lebih sopan, terlihat menarik, dan menyenangkan saat diberikan kepada penerima. Selain itu, dari sisi budaya, memberikan uang baru juga dianggap sebagai bentuk penghormatan.

Uang yang masih rapi dan belum lusuh dinilai lebih pantas untuk dibagikan, terutama kepada anak-anak. Tidak heran jika pecahan kecil seperti Rp2.000 hingga Rp20.000 paling banyak diburu karena praktis untuk dibagikan dalam jumlah banyak.



Dari sisi ekonomi, meningkatnya kebutuhan uang tunai saat Lebaran juga direspons oleh Bank Indonesia. Melalui program seperti Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI), Bank Indonesia rutin menyediakan layanan penukaran uang baru dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri.

Meski saat ini mulai berkembang tren THR digital, penggunaan uang baru masih jadi pilihan utama sebagian besar masyarakat. Mayoritas warga terlihat tetap menukar uang baru setiap tahun karena sudah menjadi bagian dari tradisi Lebaran.

Jadi, identiknya THR dengan uang baru tidak hanya dipengaruhi oleh faktor praktis. Tetapi juga nilai simbolis, budaya, dan kebiasaan sosial yang telah lama berjalan.

Tradisi ini pun diperkirakan akan terus bertahan. Meskipun perlahan juga akan semakin beradaptasi dengan perkembangan teknologi di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....