Makna Ketupat dan Tradisi Mudik saat Idulfitri di Indonesia
- 15 Mar 2026 12:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Tradisi Idulfitri di Indonesia identik dengan dua hal yang sudah sangat melekat di masyarakat, yakni ketupat dan mudik. Kedua tradisi tersebut menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran yang sarat makna kebersamaan, silaturahmi, serta saling memaafkan.
Dikutip dari Suara Muhammadiyah, ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan tradisi saling memaafkan. Kata kupat merupakan akronim dari ‘ngaku lepat’ yang berarti mengakui kesalahan.
Makna tersebut menggambarkan sikap umat Muslim yang saling mengakui kesalahan, memaafkan. Serta melupakan kekhilafan satu sama lain pada momentum Hari Raya Idulfitri.
Kupat juga dimaknai sebagai 'laku papat' atau empat perilaku yang tercermin dari empat sisi ketupat. Empat makna tersebut adalah lebaran yang berarti pintu ampunan dibuka lebar bagi sesama.
Kemudian luberan yang melambangkan kelimpahan serta anjuran untuk berbagi sedekah kepada orang yang membutuhkan. Selain itu terdapat makna leburan yang menggambarkan melebur dosa selama satu tahun, serta laburan yang berarti menyucikan diri.
Masyarakat Jawa juga mengenal tradisi Lebaran Ketupat. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal setelah umat Muslim menjalankan puasa Syawal selama enam hari.
Selain ketupat, tradisi lain yang juga identik dengan Idulfitri di Indonesia adalah mudik. Secara etimologi, kata mudik berasal dari bahasa Jawa dari kata ‘mulih dilik’, yang berarti kembali ke kampung halaman sementara.
Tradisi mudik biasanya dilakukan untuk mengunjungi keluarga, bersilaturahmi dengan kerabat, serta mengenang masa lalu di kampung halaman. Perjalanan tersebut tidak hanya menjadi ajang berkumpul dengan keluarga, tetapi juga silaturahmi dan saling memaafkan.
Sementara dalam bahasa Melayu, istilah ‘udik; merujuk pada daerah hulu atau bagian atas sungai. Pada masa lalu, masyarakat yang tinggal di hulu sering bepergian ke hilir untuk bertemu keluarga yang tinggal jauh.
Dari istilah tersebut, mudik kemudian dimaknai sebagai kembali ke ‘udik’ atau hulu. Baik dalam bahasa Jawa maupun Melayu, keduanya memiliki kesamaan makna, yaitu kembali ke asal.