Lebaran 2026 Kapan? Ketahui Jadwal Sidang Isbat dan Posisi Hilal
- 14 Mar 2026 10:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Masyarakat Indonesia menanti kepastian tanggal Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah yang jatuh pada bulan Maret 2026. Penentuan hari kemenangan tersebut bergantung pada hasil pengamatan posisi bulan baru di seluruh wilayah nusantara.
Surat Keputusan Bersama 3 Menteri mencantumkan prediksi hari libur lebaran pada tanggal 21 Maret 2026 mendatang. Namun angka tersebut masih bersifat perkiraan kalender hingga adanya ketetapan hukum resmi dari pihak kementerian.
Melansir dari laman Kementerian Agama, pelaksanaan sidang isbat penetapan satu Syawal akan dijadwalkan pada hari Kamis, 19 Maret 2026. Agenda krusial ini akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat.
Sesi pertama sidang dimulai pukul 16.00 WIB dengan agenda seminar pemaparan posisi hilal secara terbuka. Tahapan ini bertujuan memberikan edukasi kepada publik mengenai data astronomis yang menjadi dasar penentuan lebaran.
Sebelumnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan Idulfitri 1447 Hijriah jatuh pada hari Jumat tanggal 20 Maret 2026. Keputusan organisasi tersebut berlandaskan pada sistem Kalender Hijriah Global Tunggal yang berlaku secara internasional.
Menurut keterangan BMKG, konjungsi antara matahari dan bulan diprediksi terjadi pada hari Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.23 Waktu Indonesia Barat. Peristiwa astronomis ini menjadi titik awal dimulainya perhitungan siklus bulan baru untuk penentuan satu Syawal.
Metode pengamatan fisik bulan baru atau rukyatul hilal dilakukan sesaat setelah matahari terbenam di ufuk barat. Langkah ini menjadi syarat teknis penting bagi pemerintah dalam mengambil keputusan pada sidang isbat nanti.
Ketinggian hilal di wilayah Indonesia berada pada kisaran 0,91 derajat hingga mencapai angka 3,13 derajat. Posisi paling tinggi terpantau berada di wilayah Sabang sedangkan titik paling rendah terletak di Merauke.
Jarak sudut antara matahari dan bulan atau elongasi diperkirakan berada pada rentang angka 4,54 derajat. Parameter teknis tersebut sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan para petugas yang melakukan pemantauan visual di lapangan.
Umur bulan pada saat matahari terbenam diprediksi berkisar antara tujuh jam sampai dengan sepuluh jam. Angka ini menjadi acuan bagi para pakar astronomi dalam menentukan kelayakan penampakan hilal secara ilmiah.
Planet Saturnus diprediksi muncul dengan jarak sudut yang sangat dekat dengan posisi bulan saat pengamatan senja. Fenomena langit ini menambah keragaman objek astronomis yang terpantau oleh tim ahli di berbagai pusat observasi.
Periode sinodis bulan pada siklus kali ini berlangsung selama 29 hari 13 jam 22 menit lamanya. Perhitungan durasi tersebut diukur sejak peristiwa konjungsi sebelumnya hingga pertemuan benda langit yang akan datang.