Berbagi Hampers saat Lebaran, Ketahui Adab Memberi Hampers ala Imam Al-Ghazali
- 12 Mar 2026 12:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Tradisi berbagi hampers atau bingkisan saat Lebaran sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Dalam pandangan Islam, pemberian hadiah tersebut memiliki adab yang dianjurkan agar bernilai ibadah.
Dikutip laman nu.or.id, memberi hadiah dalam Islam termasuk amalan yang dianjurkan karena dapat menumbuhkan kasih sayang. Prinsip ini sejalan dengan hadis Nabi yang menganjurkan umat Islam saling memberi hadiah.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah yang menyebutkan pentingnya berbagi hadiah. Riwayat itu juga tercatat dalam kitab hadis karya ulama besar Muhammad al-Bukhari.
Dalam praktik modern, tradisi memberi hadiah sering diwujudkan melalui hampers atau parcel Lebaran. Bingkisan ini biasanya diberikan kepada keluarga, sahabat, maupun rekan kerja.
Dalam literatur tasawuf dan akhlak, ulama besar Imam Al-Ghazali menjelaskan sejumlah adab dalam memberi hadiah. Adab tersebut penting diperhatikan agar pemberian dilakukan dengan niat yang benar.
Menurutnya, hadiah merupakan bentuk penghormatan kepada orang lain. Karena itu, pemberian hadiah tidak sekadar berbagi barang, tetapi juga mencerminkan sikap menghargai.
Empat Adab Memberi Hadiah ala Imam Al-Ghazali:
1. Memandang mulia orang yang diberi hadiah
Pemberi hadiah dianjurkan memandang keutamaan orang yang akan menerima hadiah tersebut. Sikap ini menunjukkan penghormatan kepada penerima, bukan sekadar rasa iba.
Jika pemberian dilakukan karena rasa kasihan kepada orang lain, maka itu lebih tepat disebut sedekah. Sedangkan hadiah diberikan untuk memuliakan seseorang atas keutamaan atau jasanya.
2. Menampakkan rasa senang saat memberi hadiah
Memberikan hadiah hendaknya dilakukan dengan penuh kerelaan dan kegembiraan. Hal ini karena hadiah bukan kewajiban, melainkan bentuk penghargaan dan ungkapan terima kasih.
Sikap tersebut penting agar pemberian hadiah tidak terasa sebagai beban. Dengan begitu, hubungan sosial antara pemberi dan penerima dapat terjalin lebih baik.
3. Bersyukur ketika memiliki kesempatan memberi
Dalam pandangan Islam, kesempatan memberi hadiah juga merupakan nikmat dari Allah SWT. Karena itu, seseorang dianjurkan bersyukur ketika dapat memberikan sesuatu kepada orang lain.
Rasa syukur ini menunjukkan kesadaran bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan memberi. Dengan sikap tersebut, pemberian hadiah menjadi bagian dari ibadah kepada Allah.
4. Mengikhlaskan hadiah tanpa pamrih
Hadiah sebaiknya diberikan dengan niat tulus tanpa mengharapkan balasan tertentu. Keikhlasan menjadi kunci agar pemberian tersebut bernilai ibadah.
Jika nilai hadiah terasa berat bagi pemberi, Islam tidak menganjurkan memaksakan diri. Yang terpenting adalah keikhlasan serta kemampuan yang dimiliki.
Dengan memahami adab tersebut, tradisi berbagi hampers saat Lebaran dapat menjadi amalan yang lebih bermakna. Selain mempererat silaturahmi, pemberian hadiah juga menjadi sarana menumbuhkan kasih sayang antar sesama.