Syiar Ramadan: Arti Sesungguhnya dari Ketakwaan
- 03 Mar 2026 18:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Esensi dari pelaksanaan ibadah puasa adalah 'imsak', yakni menahan diri dari berbagai unsur yang bersifat negatif dan destruktif secara individu. Nilai tersebut menjadi fondasi utama dalam membentuk pribadi seorang Muslim yang bertakwa.
"Kalau nilai mulia ini bisa teraplikasi maksimal pada setiap diri mereka yang mengaku beriman. Maka, bisa dipastikan betapa damainya hidup dan kehidupan dalam berbangsa dan bernegara," ujar Musyrif Tahfidz Yayasan Pendidikan Islam, Ustaz Khairunnasri dalam Syiar Ramadan Jelang Berbuka Pro 3 RRI, 3 Maret 2026.
Khairunnasri merujuk pada ayat Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 183. Dalam ayat tersebut, Allah SWT berfirman tentang ketakwaan yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah : 183)
Artinya, tujuan akhir dari ibadah puasa adalah menghadirkan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Karena ketakwaan bisa menjadi indikator keberhasilan seseorang dalam menjalankan ibadah Ramadan secara utuh.
“Bila esensi puasa adalah menahan diri dari sikap dan tindakan yang negatif, maka tujuannya adalah membentuk mereka yang beriman menjadi pribadi bertakwa,” kata Khairunnasri.
Lantas, apa arti sesungguhnya dari takwa itu sendiri? Khairunnasri menjelaskan bahwa kata takwa berasal dari kata "waqa, yaqi, wiqayah" yang berarti menjaga atau melindungi diri dari siksa Allah SWT dengan perbuatan salih.
Makna tersebut menunjukkan bahwa orang bertakwa mampu menjaga dirinya dari pengaruh perbuatan buruk. Baik perbuatan yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, secara sadar maupun tidak sadar.
Seseorang yang bertakwa, lanjutnya, akan menghindari tindakan merusak baik secara pribadi maupun sosial. Sikap tersebutlah yang mencerminkan kedewasaan dan keimanan dari seorang Muslim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....