Puasa di Kutub Utara: saat Siang Hanya Satu Jam, Bagaimana Rasanya?
- 03 Mar 2026 11:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Berpuasa di Kutub Utara menghadirkan pengalaman berbeda ketika durasi siang hanya berlangsung sekitar satu jam. Kondisi ekstrem ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana umat Muslim menjalankan ibadah puasa secara wajar dan bermakna.
Perbedaan lama puasa terjadi karena posisi geografis memengaruhi panjang siang dan malam sepanjang tahun. Di wilayah khatulistiwa seperti Indonesia, durasi puasa relatif stabil dibandingkan kawasan lintang tinggi.
Negara subtropis seperti Turki dan Spanyol mengalami perubahan durasi puasa mengikuti musim. Sementara wilayah utara Kanada dan Norwegia dapat merasakan puasa hingga lebih dari dua puluh jam.
Di kawasan kutub, fenomena matahari tengah malam dan malam kutub membuat siklus harian menjadi tidak biasa. Pada periode tertentu, matahari hampir tidak terbenam atau justru tidak terbit sama sekali.
Situasi ini menyebabkan waktu salat bisa berlangsung berdekatan bahkan nyaris bersamaan dalam satu hari. Karena itu, penentuan awal dan akhir puasa tidak selalu mengikuti pola matahari secara literal.
Dalam praktiknya, komunitas Muslim di wilayah kutub menerapkan beberapa metode penyesuaian waktu ibadah. Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara kewajiban agama dan kondisi alam yang ekstrem.
Berikut beberapa metode yang umum digunakan umat Muslim di wilayah kutub:
1. Mengikuti waktu Makkah
Sebagian Muslim memilih mengikuti jadwal di Makkah, Arab Saudi sebagai rujukan utama. Cara ini dinilai praktis karena memberikan kepastian durasi puasa yang lebih stabil.
2. Mengikuti kota terdekat dengan siklus normal
Warga di Svalbard dapat merujuk jadwal kota seperti Tromsø atau Oslo. Metode ini dianggap relevan secara geografis dan lebih mendekati kondisi nyata.
3. Menggunakan durasi puasa rata-rata global
Sejumlah ulama menyarankan durasi moderat sekitar dua belas hingga enam belas jam. Pendekatan ini bertujuan menghindari kesulitan berlebihan akibat kondisi siang malam ekstrem.
Meski terdengar unik, pengalaman puasa satu jam jarang diterapkan secara literal oleh komunitas setempat. Prinsip kemudahan dalam ajaran Islam menjadi landasan agar ibadah tetap terlaksana tanpa membahayakan kesehatan.
Pada akhirnya, puasa di Kutub Utara menunjukkan fleksibilitas syariat dalam menghadapi kondisi alam luar biasa. Ibadah Ramadan tetap dapat dijalankan dengan khusyuk meski matahari tidak mengikuti pola biasa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....