Tradisi Colokan dalam Rangka Menyambut Malam Lailatul Qadar
- 25 Feb 2026 15:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Menjelang sepuluh malam terakhir Ramadan, masyarakat punya tradisi unik bernama Colokan. Tradisi ini dilakukan pada malam ke-29 Ramadan untuk menyambut malam Lailatul Qadar di beberapa daerah seperti di Bojonegoro dan Riau.
Tradisi Colokan melibatkan penyalakan lampu minyak atau obor kecil yang disebut colok. Lampu-lampu itu dipasang di depan rumah, pekarangan, serta sepanjang gang kampung sebagai simbol jalan pulang yang terang kepada Allah SWT.
Dulu, colok dibuat dari potongan bambu dengan sumbu dilapisi kain dan minyak tanah. Kini sebagian warga menggantinya dengan botol kaca berisi bahan bakar dan sumbu.
Obor atau lampu yang menyala melambangkan petunjuk jalan bagi arwah keluarga yang telah meninggal. Mereka percaya roh leluhur datang pada malam ke-29 untuk menerima doa dan berkah dari keluarga yang masih hidup.
| Baca juga: Simak Sejarah Pelaksanaan Puasa Ramadan |
Tradisi ini bukan sekadar adat semata, tetapi juga jadi momen refleksi menjelang akhir Ramadan. Cahaya colok diharapkan mengingatkan umat akan kehidupan setelah kematian dan pentingnya amal baik.
Colokan biasanya dinyalakan menjelang waktu berbuka puasa. Lalu lampu-lampu tersebut dibiarkan hingga malam.
Colokan sering dibarengi agenda doa bersama di rumah dan tempat ibadah setempat. Masyarakat berkumpul bersama, saling berbagi cerita dan menguatkan tekad ibadah Ramadan.
Dengan cahaya lampu atau obor yang terang, warga berharap dapat menyambut malam penuh rahmat dengan hati yang bersih. Tradisi ini juga mempererat tali silaturahmi antara tetangga dan keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....