Tradisi Ramadan di Indonesia, Begini Asal Usul 'Ngabuburit'
- 21 Feb 2026 10:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Ramadan. Dikala Ramadan tiba, menunggu berbuka puasa adalah hal yang mengasyikan, kegiatan ini dikenal dengan istilah ngabuburit.
Tradisi tersebut sudah lama melekat dalam budaya masyarakat Indonesia. Bahkan menjalankan puasa tanpa ngabuburit kurang lengkap rasanya.
Tahukah Anda kalau istilah ngabuburit punya asal-usul dan di setiap daerah punya sebutannya berbeda? Berikut adalah penjelasannya.
- Asal-Usul Ngabuburit
Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda. Menurut Kamus Bahasa Sunda terbitan Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), kata ini berasal dari frasa 'ngalantung ngadagoan burit'.
Yang berarti bersantai menunggu sore, demikian dilansir dari laman Universitas Pasundan (Unpas).
Istilah ini pun sudah identik dengan bulan Ramadan. Ngabuburit merujuk pada kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu menjelang tibanya sore.
Secara linguistik, kata ngabuburit terdiri dari dua unsur. 'Nga' merupakan imbuhan dalam bahasa Sunda yang membentuk kata kerja, sedangkan 'burit' berarti waktu sore atau menjelang magrib.
Ketua Lembaga Budaya Sunda Unpas, Hawe Setiawan, menjelaskan bahwa istilah ini unik karena keterangan waktu seperti 'burit'. Yaitu bisa berubah menjadi kata kerja setelah mendapat imbuhan.
Dari proses itulah muncul kata 'ngabuburit', yang maknanya terus digunakan hingga sekarang. Menurutnya, istilah ngabuburit menunjukkan keunikan bahasa Sunda.
Pasalnya, keterangan waktu seperti 'burit' dapat berubah menjadi kata kerja setelah mendapat imbuhan awalan 'nga'. "Istilah ngabuburit merujuk pada kata kerja, yaitu melakukan kegiatan untuk mengisi waktu seraya menyongsong tibanya sore hari," kata Hawe.
- Sejarah Ngabuburit
Jika ditelusuri lebih jauh, ternyata ngabuburit bukan tradisi baru. Istilah ini sudah dikenal sejak lama, seiring nilai-nilai Islam yang menyatu dengan budaya Sunda.
Tidak ada catatan pasti kapan kebiasaan ini mulai muncul karena berkembang secara alami melalui tradisi lisan masyarakat. Menurut Hawe, istilah ngabuburit telah dikenal sejak lama, seiring masuknya kebudayaan Islam ke tanah Sunda.
"Seingat saya sudah lama (muncul istilah ngabuburit). Saya kira sejak nilai-nilai Islam masuk dalam wilayah budaya Sunda," ujarnya.
Sejak Islam mulai menyatu dengan kehidupan masyarakat Sunda, kebiasaan mengisi waktu sore menjelang berbuka sudah dilakukan. Anak-anak bermain layang-layang, sementara yang lain menyalakan meriam bambu.
"Kegiatan ngabuburit kini kian berkembang dan beragam dibanding awal kemunculannnya. Zaman dulu, anak-anak mengisi kegiatan ngabuburit dengan bermain permainan tradisional Jawa Barat seperti bebeledugan atau meriam bambu," kata Hawe.
Tradisi ini berkembang pesat, terutama pada era 1980-an, ketika para pemuda di Bandung mulai mengadakan acara musik nuansa Islami. Hal ini dilakukan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa.
"Sekarang, kegiatan ngabuburit disesuaikan dengan kebudayaan daerah masing-masing. Tentunya diarahkan pada kegiatan yang lebih kreatif dan berharga, bukan hanya untuk mengisi waktu, tapi juga menghayati Ramadan," jelasnya.
Istilah ngabuburit kini telah digunakan secara luas di berbagai daerah di Indonesia, tak lagi terbatas di Jawa Barat sebagai daerah asal-usul katanya. Menurutnya, penyebaran ini tidak lepas dari peran media massa dan media sosial yang terus menggunakan istilah tersebut dalam pemberitaan dan konten seputar Ramadan.
"Saya kira mungkin karena faktor media, sehingga ngabuburit dikenal luas. Istilah ini juga mudah diucapkan oleh penutur non bahasa Sunda," ucapnya, menuturkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....