Ramadan Momentum Memperbaiki Niat dan Motivasi Ibadah

  • 20 Feb 2026 08:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Bulan suci Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan waktu yang tepat untuk memperbaiki tujuan dan motivasi dalam beribadah. Demikian disampaikan oleh Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren Provinsi DKI Jakarta (FKPP) DKI Jakarta, Ust. Tubagus Masnun Nafis.

Ia mengingatkan dalam sabda Rasulullah SAW, tentang sebuah amal yang bergantung kepada niat sang pemberi. Hadist ' berbunyi 'sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya' (HR. Bukhari dan Muslim).

"Niat yang baik adalah kunci untuk mendapatkan pahala yang besar. Allah tidak melihat rupa dan bentuk kita, tetapi melihat hati dan amal kita," ujarya dalam Syiar 2 Ramadan 1447 H RRI PRO3, Jumat, 20 Februari 2026.

Dalam tausiahnya, ia juga mengajak umat Islam untuk melakukan refleksi diri selama bulan suci Ramadhan. Ia menekankan pentingnya menghadirkan kesadaran penuh dalam setiap ibadah yang dijalankan.

Sementara itu, ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa Ramadan adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183.

"Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan yang mulia. Hal ini dikarenakan di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya menyederhanakan hidup selama Ramadan dengan mengurangi aktivitas yang tidak bermanfaat. Mengurangi belanja yang tidak perlu, membatasi waktu menonton televisi, bermain gim, maupun penggunaan media sosial secara berlebihan.

Sebagai gantinya, umat Islam dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an. "Melaksanakan shalat sunnah, berdzikir, serta memperbaiki kualitas shalat agar lebih khusyuk," katanya.

Sementara itu, Ramadan sebagai momen pembelajaran dan perenungan, untuk mendukung kekhusyu’an ibadah. Demikian disampaikan oleh Pengurus MUI Jawa Timur, KH. Abdurrahman Navis.

"Puasa, yang dilakukan dengan menahan lapar, dahaga, dan segala hawa nafsu, bukanlah sekadar pengekangan tubuh. Tetapi juga momen penting untuk mengaktivasi seluruh syaraf, khususnya syaraf perasaan (emosi) dan syaraf pikiran," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....