Kemenag: Berselimut Hening, Ramadan Menyapa Hati Umat Muslim
- 19 Feb 2026 08:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, menilai Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Bukan dengan gemuruh, melainkan dengan ketenangan yang perlahan mengetuk hati setiap Muslim.
Ia menyebut, kehadiran bulan suci ini menjadi panggilan untuk memperdalam ketakwaan. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban berpuasa bagi orang-orang beriman.
"Ramadan tidak datang dengan kehebohan. Ia hadir dengan kelembutan. Ia seperti tamu agung yang mengetuk pintu hati kita perlahan," katanya dalam Syiar 1 Ramadan 1447 H RRI PRO3, Kamis, 19 Februari 2026.
Menurutnya, tujuan akhir dari ibadah puasa adalah lahirnya takwa. Takwa, ujarnya, bersemayam di dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Indikatornya adalah akhlakul karimah—sikap yang santun, jujur, penuh empati, serta mampu menahan diri. Terutama dari perbuatan yang merugikan orang lain.
Ia mengingatkan, dalam keseharian, hidup kerap berjalan terlalu cepat. "Pagi dikejar pekerjaan, siang dipenuhi beragam urusan, dan malam kerap dihabiskan bersama layar serta arus informasi yang tidak selalu menenangkan," ujarnya.
Di tengah ritme yang serba cepat itu, Ramadhan hadir untuk memperlambat semuanya. Bulan suci ini menemani umat Islam di tengah gegap gempita dunia, menghadirkan ruang jeda untuk kembali menata batin.
Di bulan Ramadan, umat muslim memulai hari lebih dini, menyapa fajar dengan sahur, dengan menahan lapar hingga meredam emosi. Dalam perjalanan batin itulah, ujar Muchlis, hati perlahan menjadi teduh, dan benih-benih takwa tumbuh mengakar di dalam jiwa.
Ramadan adalah ruang pemulihan bagi hati yang penat oleh hiruk-pikuk kehidupan. Ia bukan hanya menghadirkan keteduhan, tetapi juga menjadi jalan pembersihan jiwa.
Di dalamnya, manusia diajak menanggalkan beban-beban batin—kesombongan, iri, amarah, dan segala prasangka. "Sama seperti halnya dalam Surah Asy-Syams ayat 9," ucapnya.
Ayat itu, menurut Muchlis, mengingatkan bahwa keberuntungan sejati tidak terletak pada gemerlap dunia, melainkan pada jiwa yang bersih. Dan Ramadan menjadi momentum terbaik untuk menapaki jalan penyucian tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....