Inilah Perbedaan Hisab dan Rukyat Penentuan 1 Ramadan
- 17 Feb 2026 08:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Menjelang bulan suci Ramadan tahun 2026, umat Islam di Indonesia kembali memperhatikan satu hal penting. Bagaimana penetapan 1 Ramadan ditetapkan.
Meski sama-sama digunakan sebagai dasar menentukan awal Ramadan. Hisab dan rukyat memiliki metode berbeda yang kerap menjadi perbincangan di masyarakat Muslim Indonesia.
Perbedaan ini tak hanya teknis tetapi juga menyentuh aspek budaya, dan keagamaan. Namun kebijakan nasional yang penting untuk dipahami sekarang.
- Apa Itu Metode Hisab?
Hisab berasal dari kata bahasa Arab yang berarti menghitung. Dalam konteks penentuan awal Ramadan, metode hisab menggunakan perhitungan astronomi dan matematik untuk menentukan posisi bulan dan kemungkinan munculnya hilal (bulan sabit muda).
Dengan hisab, para ahli falak dapat menghitung tanggal awal bulan Hijriyah jauh hari sebelumnya berdasarkan data astronomis. Tanpa harus melihat hilal secara langsung di langit.
Metode ini juga memungkinkan penyusunan kalender jangka panjang. Karena posisi bulan dapat diprediksi akurat melalui rumus dan algoritma ilmiah.
Meski begitu, salah satu kritik terhadap metode hisab adalah ketergantungan pada perhitungan teoretis. Hal ini dilakukan tanpa konfirmasi visual apakah hilal benar-benar terlihat di ufuk.
- Apa Itu Metode Rukyat?
Berbeda dengan hisab, rukyat secara literal berarti melihat. Rukyatul hilal adalah metode pengamatan langsung terhadap hilal di langit selepas matahari terbenam.
Jika hilal terlihat oleh pengamat di tanah air baik dengan mata telanjang maupun alat seperti teleskop. Hingga hari berikutnya ditetapkan sebagai 1 Ramadan.
Pengamatan ini biasanya dilakukan pada 29 Sya’ban, dengan tim yang tersebar di berbagai lokasi strategis di seluruh Indonesia. Hasil rukyat tersebut kemudian dibahas dalam sidang isbat pemerintah yang dipimpin oleh Menteri Agama.
Rukyat memiliki tantangan, hasil pengamatan bisa terhalang cuaca, seperti awan tebal atau kabut. Hingga kemudian membuat hilal sulit atau tidak terlihat meski secara astronomis sebenarnya telah muncul.
- Kenapa Sering Terjadi Perbedaan Penetapan?
Perbedaan antara hasil hisab dan rukyat tidak sekadar masalah ilmiah. Di Indonesia, perbedaan ini sering muncul karena beberapa organisasi Islam mengedepankan satu metode dibandingkan lainnya.
Misalnya, sebagian besar keputusan Muhammadiyah didasarkan pada hisab. Sementara pemerintah dan beberapa ormas lainnya menggabungkan rukyat dan hisab dalam sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan.
Selain itu, kriteria hilal yang disepakati juga berpengaruh. Misalnya, di bawah kesepakatan MABIMS, hilal dianggap memenuhi syarat bila mencapai ketinggian minimal 3 derajat di atas ufuk ketika matahari terbenam.
Faktor lain adalah kondisi cuaca yang membuat hasil rukyat hilal tidak konsisten di berbagai wilayah. Sehingga keputusan akhir tetap menunggu verifikasi dan musyawarah kolektif dalam sidang isbat nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....