Sejarah Rukyatul Hilal Penentu Awal Ramadan di Indonesia

  • 15 Feb 2026 12:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menjelang Ramadan 2026, penentuan awal puasa kembali menjadi perhatian umat Islam di Indonesia. Salah satu metode yang digunakan adalah rukyatul hilal sebagai penanda masuknya bulan suci.

Hilal merupakan bulan sabit muda pertama yang terlihat setelah fase konjungsi bulan. Kemunculannya menjadi acuan awal bulan dalam kalender Islam, termasuk Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Dalam tradisi Islam, praktik pengamatan hilal sudah dikenal sejak masa Nabi Muhammad SAW. Hadis riwayat ulama menyebut umat Islam memulai puasa setelah melihat hilal atau menyempurnakan bulan sebelumnya menjadi tiga puluh hari.

Secara historis, masyarakat Arab pra-Islam telah menggunakan pengamatan bulan sebagai sistem penanggalan lunar. Tradisi tersebut kemudian disempurnakan dalam Islam menjadi kalender Hijriah yang digunakan hingga kini.

Seiring perkembangan peradaban Islam, ilmu astronomi turut berkembang untuk mendukung pengamatan hilal. Tokoh ilmuwan seperti Al-Biruni, Ibn Yunus, dan Al-Battani berperan dalam penyempurnaan metode observasi bulan.

Di era modern, pengamatan hilal tidak hanya mengandalkan mata telanjang. Teknologi teleskop, kamera digital, serta perangkat lunak astronomi membantu meningkatkan akurasi penentuan awal bulan Hijriah.

Meski demikian, perdebatan antara metode rukyat dan hisab masih berlangsung hingga kini. Sebagian kalangan menekankan observasi langsung, sementara lainnya menggunakan perhitungan astronomi sebagai dasar penentuan.

Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama RI berperan mengoordinasikan pemantauan hilal secara nasional. Proses tersebut melibatkan berbagai titik rukyat serta kajian astronomi sebelum sidang isbat menetapkan awal Ramadan.

Selain itu, lembaga seperti Badan Hisab dan Rukyat turut berkontribusi dalam standardisasi metode pengamatan. Kehadiran lembaga ini membantu memastikan proses penentuan awal bulan berlangsung ilmiah sekaligus sesuai syariat.

Dalam konteks sosial keagamaan, rukyatul hilal bukan sekadar proses astronomi. Tradisi ini juga menjadi momentum kebersamaan umat dalam menyambut bulan suci dengan kesiapan spiritual.

Dengan memahami sejarah dan maknanya, masyarakat dapat melihat rukyatul hilal sebagai warisan ilmu dan tradisi Islam. Menjelang Ramadan 2026, praktik ini kembali mengingatkan pentingnya harmoni antara sains, agama, dan budaya dalam kehidupan umat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....