Keutamaan Lailatul Qadar dalam Kajian Metafisika Islam
- 13 Mar 2025 14:52 WIB
- Surabaya
KBRN Surabaya: Dalam buku Esensi Puasa: Kajian Metafisika oleh K.H. Bahaudin Mudhary, diterangkan mengenai Lailatul Qadar.
"Sesungguhnya Aku (Allah) turunkan Al-Qur'an di malam Lailatul Qadar. Tahukah engkau apakah sebenarnya malam Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar adalah lebih baik daripada 1000 bulan. Di malam itulah turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk segala urusan, sejahtera pada malam itu hingga fajar menyingsing." (Al-Qadar: 1-5).
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa Lailatul Qadar lebih baik (utama) dari 1000 bulan.
Marilah kita coba menganalisis kandungan ayat tersebut.
Dalam Kentering van het Westelijk Wereldbeeld, halaman 76, J. Gebeer menyebutkan bahwa kecepatan sinar ruhani (meta energi) menurut ilmu metafisika adalah 30.000.000.000.000.000 km per detik (tiga puluh kuadriliun km per detik). Sedangkan dalam fisika, kecepatan sinar biasa adalah 300.000 km per detik.
Perbandingan Kecepatan Sinar Ruhani dan Sinar Biasa
Sinar ruhani setiap detiknya: 30.000.000.000.000.000 km.
Sinar biasa dalam 1000 bulan: 777.600.000.000.000 km.
Maka, sinar ruhani dalam satu detik dibandingkan dengan kecepatan sinar biasa masih memiliki kelebihan:
30.000.000.000.000.000 km - 777.600.000.000.000 km = 29.222.400.000.000.000 km
Atau setara dengan 37.627 bulan, 9 hari, 10 jam, 30 menit, 21,6 detik.
Jadi, jelaslah bahwa dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Lailatul Qadar lebih baik (utama) dari 1000 bulan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mereka yang beri'tikaf dan bertafakkur di bulan Ramadan benar-benar memperoleh keutamaan lebih besar daripada seribu bulan.
Karenanya, tidak mustahil jika orang yang beri'tikaf dan bertafakkur dalam bulan Ramadan dapat menjumpai sinar malaikat, sehingga dapat menyaksikan peristiwa di alam gaib, memahami hakikat semesta, serta memperoleh ilmu pengetahuan baik dalam bentuk intuisi, ilmu infra maupun supra-intelektual.
Filsafat dan ilmu hikmah (de absolute waarheid) adalah tingkat kesarjanaan yang dikaruniai langsung oleh Allah SWT. Oleh para filsuf intelektual Ketuhanan, orang yang dikaruniai intuisi langsung disebut sebagai directe aanschouwing.
Jika kita cermati, dalam Surah Al-Ma'arij ayat 4 disebutkan: "Malaikat dan Jibril naik kepada-Nya (menghadap Allah) pada hari yang ukurannya 50 ribu tahun."
Dalam mencari Lailatul Qadar, Rasulullah saw. bersikap sangat arif. Bukan dengan menyepi di puncak gunung, tempat-tempat keramat, atau gua-gua, melainkan dengan memperbanyak taubat, membaca Al-Qur'an, dzikir, dan beri’tikaf di masjid.
"Sesungguhnya Nabi Muhammad saw., tatkala sudah masuk malam ke-10 (dari bulan Ramadan), beliau bangun di waktu malam, membangunkan istri beliau, serta mengencangkan kainnya." (HR. Bukhari, Muslim, dari Aisyah ra).
Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia merasa berbahagia dan bersyukur kepada Allah SWT yang telah menurunkan wahyu Al-Qur'an pada tanggal 17 Ramadan, di malam Lailatul Qadar.
Dengan demikian, kita dapat hidup dalam cahaya hidayah Allah untuk meraih kebahagiaan lahir dan batin, di dunia maupun di akhirat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....