Perayaan 100 Tahun Sastrawan Bumi Manusia, Simak Profilnya
- 11 Feb 2025 05:32 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Tahun 2025 menandai perayaan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar yang berpengaruh dalam sastra Indonesia, momen ini menjadi tonggak penting bagi sastra Indonesia dan dirayakan melalui gerakan budaya bertajuk #SeAbadPram. Sepanjang hidupnya, Pramoedya menghasilkan lebih dari 50 karya yang diterjemahkan ke 42 bahasa dunia.
Perayaan seabad Pramoedya digagas oleh Pramoedya Ananta Toer Foundation bersama Komunitas Beranda Rakyat Garuda di Indonesia. Festival peluncuran akan berlangsung di kota kelahirannya, Blora, pada 6-8 Februari 2025.
Rangkaian acara meliputi peresmian nama jalan Pramoedya Ananta Toer dan penyelenggaraan kuliah memorial di lokasi tertentu. Selain itu, ada diskusi sastra, pameran buku, pemutaran film, pementasan teater, dan konser bertajuk Anak Semua Bangsa.
Perayaan ini merupakan langkah strategis untuk mengenang Pramoedya sebagai sastrawan, pemikir, jurnalis, serta pejuang bangsa Indonesia. Merayakan Pram berarti merayakan kekayaan intelektual serta semangat perlawanan yang tetap relevan hingga sekarang.
Profil dan Kehidupan Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer merupakan salah satu sastrawan paling berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia abad ke-20. Lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, ia adalah anak sulung dari pasangan M. Toer dan Siti Saidah.
Sejak kecil, Pram menempuh pendidikan di Instituut Boedi Oetomo sebelum melanjutkan studi teknik radio di Surabaya. Pada 1942, ia pindah ke Jakarta dan bekerja di Kantor Berita Domei sembari melanjutkan pendidikan formal.
Pada 1958, Pramoedya bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Keputusannya menimbulkan konflik dengan seniman lain serta membawanya bersinggungan dengan pemerintah Orde Baru.
Pada 13 Oktober 1965, pasca-peristiwa Gerakan 30 September, Pramoedya ditangkap dan menjalani masa penahanan yang berat. Ia dipenjara di Salemba dan Cilacap sebelum akhirnya diasingkan ke Pulau Buru selama 10 tahun.
Meskipun mengalami pengasingan, Pramoedya tetap berkarya dan melahirkan banyak buku berpengaruh dalam dunia sastra. Beberapa karyanya adalah Bumi Manusia (1980), Jejak Langkah (1985), Rumah Kaca (1988), serta Arus Balik (1995).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....