Pokdarwis MMP Rehabilitasi Mangrove Membentuk Daratan menuju Pulau Penibung

  • 17 Jul 2026 11:47 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Iswanto, yang akrab disapa Wawan, merupakan pengurus sekaligus sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mempawah Mangrove Park (MMP). Dalam menjalankan perannya, ia bersama anggota kelompok bertanggung jawab mengelola berbagai kegiatan pelestarian kawasan mangrove. Pelestarian ini bertujuan menyambungkan kembali daratan pantai dengan pulau Penibung.

Kehadiran Mempawah Mangrove Park memperoleh dukungan dari sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui program CSR, di antaranya Bank Indonesia dan PT Pelindo. Dukungan tersebut diwujudkan dalam pembangunan berbagai infrastruktur, seperti jalan, gazebo, fasilitas pembibitan, hingga kegiatan penanaman mangrove.

“Awal mula MMP dibentuk mendapat dukungan dari beberapa BUMN sebagai CSR seperti Bank Indonesia dan PT. Pelindo. Bantuan tersebut berupa pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan, gazebo, pembibitan, maupun penanaman,”ujar Iswanto kepada RRI di lokasi wisata Mempawah Mangrove Park, Kamis, 16 Juli 2026.

Selain itu, Wawan panggilan akrab Iswanto mengapresiasi Dinas Perhubungan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Mempawah yang dipimpin Raja Fajar Azansyah, S.E., M.A.P. Raja Fajar aktif memberikan pembinaan, pelatihan, serta pendampingan bagi pegiat lingkungan.

“Dinas terkait seperti dinas Perhubungan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Mempawah, Raja Fajar Azansyah banyak memberikan andil terhadap pelestarian lingkungan pantai mangrove terutama dalam melakukan pembinaan serta pelatihan. Bahkan sejak 2012 Raja sudah mulai merintis penanaman mangrove di kawasan bibir pantai sebelum terbentuknya MMP,” ujarnya.

Pembibitan dan Penanaman Mangrove

Aktivitas rutin dilakukan di MMP meliputi pembibitan mangrove, penanaman, serta menjaga kebersihan kawasan wisata. Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan secara gotong royong oleh anggota Pokdarwis sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pesisir. “Aktivitas saya dan teman-teman disini melakukan pembibitan, penanaman, bersih bersih tempat ini,”ujarnya.

Kegiatan pembibitan dilakukan oleh Kelompok Sadar Wisata MMP yang beranggotakan 12 orang. Seluruh anggota terlibat aktif dalam proses pembibitan maupun penanaman mangrove yang telah berlangsung secara konsisten sejak 2016.

“Kalau untuk pembibitan ini dilakukan perkelompok dengan nama kelompok pokdarwis sadar wisata MMP anggotanya 12 orang. Kegiatan kita pembibitan dan penanaman yang dimulai sejak 2016,” ujarnya.

Jadwal rutin penanaman mangrove dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam setahun atau setiap tiga bulan sekali. “Mengingat waktu perkembangan bibit mangrove terhitung dari pembenihan hingga menjadi bibit siap tanam yakni 3 bulan,” ujarnya.

Sementara itu, penanaman di luar jadwal rutin juga dilakukan apabila adanya kerja sama dengan yayasan maupun perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). “Di luar jadwal pelaksanaan penanaman itu sendiri biasa dilakukan saat penanaman akbar maupun jika ada yayasan dan CSR yang akan mau menanam,” ujarnya.

Produksi Bibit Mangrove MMP Layani Permintaan Antarwilayah

Lebih lanjut, Wawan mengungkapkan bahwa keberhasilan kegiatan pembibitan didukung oleh keberadaan propagator pembibitan yang dimiliki Pokdarwis MMP. Berkat fasilitas tersebut, bibit mangrove hasil budidaya MMP kerap menerima pesanan dari luar Kabupaten.

“Banyak bibit mangrove yang dibudidayakan di MMP tersebut sering mendapat pesanan dari luar Kabupaten Mempawah seperti Sambas dan Kubu Raya.,”ujarnya.

Mengenai harga bibit mangrove per-batang dipatok dengan harga terjangkau untuk pembelian dalam jumlah besar. “Harga bibit mangrove .di bandrol 3 ribu rupiah perbatang jika dipesan dalam jumlah besar,”ujarnya.

Target Rehabilitasi Mangrove Menuju Pulau Penibung

Wawan menyampaikan mengenai jangka panjang, MMP menargetkan kawasan mangrove dapat menyambungkan kembali daratan pantai dengan Pulau Penibung. Ia mengatakan bahwa berdasarkan cerita para leluhur, kawasan tersebut pernah menjadi satu daratan sebelum terpisah akibat abrasi.

“Berdasarkan cerita leluhur zaman dahulu antara tahun 60-70an daratan dan pulau penibung pernah menyatu,”ujarnya.

Penanaman kembali mangrove kini memulihkan kawasan pesisir yang mengalami abrasi yang mengikis sebagian pesisir. Sejak 2011, upaya rehabilitasi mangrove telah berhasil membentuk daratan baru hingga sekitar 200 meter.

“Terbentuknya daratan sejauh 200 meter sudah dilakukan penanaman mangrove kurun waktu sejak 2011,”ujarnya.

Meski demikian, masih terdapat sekitar 800 meter lagi yang harus dihijaukan agar daratan dapat tersambung hingga Pulau Penibung. “Tugas kami dan kawan kawan pegiat lingkungan ini agar sampai ke pulau penibung tinggal sekitar 800 meter lagi,”ujarnya.

Terakhir, Wawan menegaskan bahwa regenerasi pegiat lingkungan menjadi salah satu fokus utama Pokdarwis MMP. Bersama rekan-rekannya, ia terus melibatkan anak-anak dalam berbagai kegiatan pelestarian mangrove.

Ia berharap, generasi muda dapat melanjutkan perjuangan menjaga dan melestarikan lingkungan pesisir di masa mendatang. “Saya berharap anak-anak inilah kedepannya yang akan meneruskannya,”katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....