Kerupuk Ikan Pelia Bangkitkan UMKM Kuliner Kalbar
- 11 Des 2025 13:53 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Usaha rumahan milik Pelia, produsen kerupuk ikan asal Ambawang yang sekarang menetap di daerah Pal 9, Kabupaten Kubu Raya, terus menunjukkan perkembangan positif setelah tiga tahun berdiri. Meski dimulai dari skala kecil, produk kerupuk ikan yang ia bangun sendiri kini mampu menjangkau berbagai daerah hingga memenuhi permintaan toko-toko cemilan di Pontianak.
Dalam program Bejaja’ RRI Pro 4 Pontianak, yang dipandu Host Budiman Taher, Kamis (11/12/2025), Pelia menceritakan bahwa usaha ini ia rintis sejak masih bekerja di tempat produksi kerupuk milik orang lain. “Capek rasanya makan gaji sama orang, pinginnya usaha sendiri. Kalau kita usaha sendiri kan kapan mau kerja bisa kerja, kalau capek bisa istirahat,” ujarnya menjelaskan keputusan untuk mandiri.
Awalnya ia bekerja sebagai pembuat kerupuk ikan, sebelum akhirnya memberanikan diri membeli bahan sedikit demi sedikit. “Sikit-sikit lah kita beli barang-barangnya. Merintis sedikit-sedikit,” katanya.
Ia mulai mempromosikan produknya dari kampung ke kampung, terutama di lingkungan keluarganya. Respon positif pun membuatnya semakin percaya diri. “Respon mereka enak Kak, katanya kerupuknya. Mereka bilang usaha sendiri, jadi saya semangat,” ucapnya.
Saat ini Pelia memproduksi kerupuk ikan bermerek Pelia Tri, menggunakan ikan malong sebagai bahan utama. “Sekarang ikan tinggiri mahal. Jadi,kita pakai ikan malong. Banyak di sini dan nggak langka,” katanya.
Ia menegaskan bahwa berganti bahan baku tidak mengurangi kualitas rasa. “Nggak ada yang kecewa sih dari pelanggan, karena rasa tetap enak,” katanya, menambahkan.
Proses produksinya cukup panjang, yaitu sekitar satu minggu dari penggilingan, perendaman, pengukusan, hingga pengeringan. “Kalau matahari bagus, satu hari sudah kering. Tapi prosesnya keseluruhan memang satu minggu,” kata Pelia. Ia dibantu dua hingga tiga karyawan, tergantung jumlah pesanan, dengan total produksi mencapai 100 kilogram setiap minggu.
Pelia menyebut modal menjadi tantangan terbesar. “Asal modal aja. Minimal harus siapkan 5 juta buat ikan, tepung, bahan semua, sama gaji karyawan,” katanya.
Meski begitu, omzet bulanannya kini sudah mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. “Betul, sekitar segitulah, pastinya saya ndak ngitung sih,” akunya singkat.
Produknya kini didistribusikan ke sejumlah toko cemilan di Pontianak, bahkan sudah menjangkau wilayah luar kota seperti Sandai. Momen libur Natal dan akhir tahun juga membuat permintaan melonjak.
“Kalau Natal, jualannya meningkat banyak. Sampai 300 kilo dalam tiga minggu,” tuturnya.
Kerupuk kulit ikan juga menjadi varian favorit pembeli. Pelia menceritakan awal mula ia mengolah kulit yang sebelumnya dibuang.
“Dulu waktu kerja sama orang itu, kok kulit ikannya dibuang. Jadi, saya ambil dan olah sendiri, coba-coba goreng. Akhirnya jadi kerupuk kulit,” kenangnya.
Meski belum aktif di media sosial, Pelia berharap ke depan usahanya bisa semakin berkembang. “Belum paham main HP. Tapi sambil belajar lah,” ucapnya sambil tersenyum.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....